Ficlet – Black and White “Rain…”

black-and-white-hand-rain-Favim.com-418224

Langit mulai memudar. Deru angin seakan mendampingi perjalananku siang ini. Suasana jalan ramai,  terjadi kemacetan kecil dititik-titik tertentu. Cuaca telah berhasil menipu orang-orang, sama seperti halnya aku. Hanya saja mereka sepertinya tak menyukai keadaan ini. Mereka terlihat tergesa-gesa membalap satu sama lain, berpacu dengan gelapnya awan disiang bolong diatas sana. Sedangkan aku, memacu motorku dengan kecepatan minim, 30 km/jam. Aku menikmati suasana seperti ini. Aku suka ketika awan hitam melindungiku dari jahatnya sinar mentari, ketika angin semilir menenangkan pikiranku, dan ketika langit runtuh seakan mendekap tubuh ringkuhku. Aku menyukai semuanya.

Disaat seperti ini lah aku merasa kesepian, aku membutuhkan kehadiranmu. Aku butuh dekapanmu seperti halnya dekapan awan hitam itu. Tapi aku menyadari kenyataan kita saat ini, kau tak disampingku. Ya ya, kembali kesabaranku diuji oleh jarak dan waktu.“Menjalani rutinitas seorang diri bukanlah hal yang buruk”. Kembali aku berdusta dengan hatiku. Membuat sebuah senyum simpul dengan mata sendu yang tak bisa berbohong.

Gerimis. Aku membuka kaca helmku perlahan. Menikmati setiap bulir-bulir kecil hujan menyentuh permukaan wajahku lembut. Melewati jalan yang dulu pernah kita lewati bersama, sebelum kepergianmu. Aku tak kuasa menahan senyumku. Aku benar-benar merindukanmu…

Hujan. Hujan datang. “Tapi mengapa kau tak kunjung datang seperti halnya hujan?” Baiklah, ini pertanyaan bodoh yang tentu sudah aku ketahui jawabannya. Hujan tau betapa aku merindukanmu, dan berusaha menghentikan khayalku tentangmu. Hujan bertambah deras dengan diameter bulirnya semakin besar. Menimbulkan rasa pedih saat kontak dengan kulit wajahku. Pilu rasanya. Aku menutup kaca helm namun masih memacu lamban motor biruku. Aku membiarkan hujan membasahi pakaian dan rok jeansku walau aku tau jika setelah ini masih ada kuliah sore. Aku menyukai hujan disiang hari dan memutuskan untuk memintanya untuk menemaniku pulang, dan menganggapnya adalah dirimu.

Dan benar saja, saat ini aku basah kuyup. Melepaskan pakaianku satu demi satu dan membiarkannya tergantung bebas bersama angin yang hujan bawa. Kini aku duduk manis didepan laptop dengan segelas coklat panas dan menulis ini semua. Berharap kau ada didepanku dan dapat mengatakan semua ini secara langsung kepadamu, tanpa perantara tanpa alat bantu dan tanpa ada batas. Tapi, lagi-lagi aku sadar, kau jauh.

Putih, aku sangat merindukanmu…

Terimaksih karena kau telah mau kembali kepadaku walau dengan kondisi yang seperti saat ini. Tapi aku menikmatinya. Asal selamanya hitam dan putih bersama.

 

Ficlet – Black and White “White is back and…”

12231537-holding-hand-black-and-white

Tuhan mendengar doaku. Angin telah menerbangkan harapku kepadanya. Dan kasihku mampu menyentuh hatinya. Putih telah kembali. Dia kembali. Iya, dia yang kembali adalah putih yang nyata, putih yang pernah membawa pergi senyum dan sebagian hatiku. Putih yang dulu menutup segala akses dariku kini datang kembali kehadapanku dengan wajah yang masih setampan dulu, wajah yang selalu aku harapkan dapatku sentuh kelak setiap kali aku membuka mataku. Wajah yang terlihat sempurna dimataku dengan segala kekurangannya.

Aku menghempaskan segala kebencianku padanya. Melupakan segala kutukanku padanya. Aku menatap lurus padanya. Mata itu… Seakan mengatakan kalau dia memang kembali untukku. Seakan memintaku untuk menariknya kedalam pelukku dan mencumbunya sesaat. Mata itu, bening dan berbinar. Menarikku kedalam hangatnya suasana ini. Walau hanya hening.

Aku tak kuasa menahan cairan bening ini, ia pecah dan membasahi seperempat pipiku. Dan ia menarikku kedalam peluknya. Aku hening dalam tangisku. Dan putih menyentuh puncak kepalaku pelan. Berusaha menenangkan diriku yang tengah dikuasai emosi. Membucah. Aku tak tau apa yang aku rasakan kini.

Ia bilang ia mencintaiku. Putih yang mengatakannya. Putih menyatakan perasaannya kepada hitam walau dengan susah payah dan penuh perjuangan. Sesaat kami larut dalam keharuan ini. Melupakan segala yang ada disekitar. Bahkan lupa kalau dialah orang yang telah mengobrak-abrik perasaanku sesuka hatinya selama ini. Aku lupa semua itu. Yang aku ingat hanya betapa aku menyayanginya, mencintainya dan mengharapkannya. Hanya itu…

Aku tak mampu menahan senyumku. Begitu pula putih. Mungkin saat ini kami terlihat karena terus menatap satu sama lain dengan senyum yang (terlalu) manis sepanjang waktu. Aku tak peduli begitu banyak pasang mata yang mengarah pada kami. Yang aku pedulikan saat ini hanya kami. Hubungan kami. Aku dan dia. Hitam dan putih. Tanpa siapa pun diantara kami.

Namun diantara kebahagian ini terselip sebuah berita duka.

Putih tak dapat selalu berada disampingku …

My Favorite writer

Aloha friends ^^

 

Hari ini aku mau share tentang penulis-penulis favorit-ku. Mereka-mereka ini adalah author yang telah menghasilkan fanfiction dari berbagai genre yang bagus (my opinion guys). Tapi, harap maklum karena hampir semua FF ini cast-nya Super Junior. Main cast-nya ga jauh dari Kyuhyun, Donghae, Siwon dan Eunhyuk. Karena aku pribadi suka sama SJ dan kalo cast-nya mereka, imajinasiku langsung main. Wajah mereka yang bisa dinistakan buat karakter apa aja (kecuali Siwon yang cuman cocok dengan karakter berwibawa, serius, cool dan orang kaya #eh) bikin feelnya dapet banget.

Langsung aja deh. Semoga bisa jadi referensi buat kalian semua ^^

Baca lebih lanjut