Fanfiction – End Of Our Marriage

Tittle    : End Of Our Marriage

Author : Choi Heristyara

Cast     : Lee Donghae, Park Heehyo, Jessica Jung

Rate     : PG15

Genre  : Married Life

Bukankah ini mimpi ? Ini persis seperti sebuah mimpi buruk. Mimpi yang sangat aku takuti. Mimpi yang  membuatku seakan mati. Mimpi yang mampu membuatku ketakutan setengah mati. Dan mimpi yang sangat aku benci !

Tapi sayangnya ini bukanlah mimpi. Ini sebuah kenyataan pahit yang menerpa kehidupanku, kehidupan rumah tanggaku yang sudah ku bina selama 2 tahun. Baru memang, tapi mungkinkah pernikahan ini akan terus berjalan ?

Aku tak yakin akan masa depan itu, masa depan yang selalu diidam –idamkan oleh semua pasangan didunia ini, pernikahan yang langgeng hingga tua. Apa ini kehendakku ? Bukan ini bukan kehendakku dan bukan kuasaku. Ini sungguh bad surprise sepanjang sejarah hidupku. Ini bukanlah sesuatu yang selama ini aku harapkan.

Sudah tak terhitung berapa banyak butiran bening ini keluar dari mataku. Dan sudah tak terhitung pula sudah berapa lama aku mengurung diri disini. Air mata ini belum cukup untuk mengungkapkan rasa sedih dan kecewaku. Sakit ini mungkin tak akan terobati dalam waktu singkat. Bahkan aku ragu jika sakit ini akan bisa hilang.

Batin ini sudah cukup lelah dengan semua ini. Bahkan sempat terbersit niat buruk dalam benakku. Tapi, tidak ! Jika aku meninggalkan semuanya sekarang maka aku akan kalah. Hanya seorang pecundang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hanya karena seorang laki-laki. Aku bukan pecundang ! Aku Lee Heehyo, ani.. Park Heehyo bukanlah seorang pecundang ! Akan kutunjukan kalau aku ini wanita tangguh.

Tapi adakah wanita tangguh yang menangis ditengah malam seperti ini ? Tak dapat kupungkiri, ini sungguh pukulan yang berat bagiku. Sebuah kesetiaan dan ketulusan dibalas dengan kepedihan. Bak air susu dibalas air tuba. Kesetiaan dan kepercayaanku telah dikhianati oleh suamiku sendiri, Lee Donghae.

Terdengar suara ketukan pintu bertubi-tubi dari luar kamar. Aku tau itu dia. Laki-laki yang telah berhasil membuat hatiku hancur tanpa sisa. Kejadian tadi sudah cukup membuatku menyadari kebodohanku selama ini yang hanya meremehkan segala firasat dan perasaan burukku selama ini.

Aku menutup mulutku rapat, berusaha membungkam mulut ini agar tak mengeluarkan isakan yang lebih nyaring. Namun sayang, lagi-lagi rasa sakit ini membuatku tak mampu mengendalikan emosikku.

“dengarkan aku dulu hyo-ah !! Ini tak seperti yang kau bayangkan. Kau harus mendengar penjelasanku !!”

Teriakan itu terdengar jelas dikedua telingaku. Bukan tuli, namun aku sedang berusaha tuli, berusaha untuk tidak termakan segala omongannya. Apapun yang akan dia katakana itu tidak akan merubah segala yang aku lihat sendiri. Mata ini tidak buta Oppa. Aku ini tidak bodoh dan aku tau apa yang telah kau lakukan dengan wanita laknat itu ! Apa kau pikir aku ini anak kecil yang bodoh dan bisa kau tipu dengan mudahnya Oppa ? Mungkin dulu iya karena aku tidak menyadari skandalmu dengannya dan berpikiran kalau kau adalah suami terbaik yang pernah ada. Tapi kau tau, bahkan seorang keledaipun tidak akan terjeblos kelubang yang sama dua kali. Begitu pula aku.

“aku mohon .. Heehyo, bukalah pintunya …”

Pukul 00.00

3 jam sudah aku disini dan air mata ini masih juga tak berhenti mengalir. Bahkan debit air yang keluarpun tidak berkurang. Dan begitu pula Donghae oppa, 3 jam full nonstop pula ia menggedor pintu kayu itu. Terus berusaha meyakinkanku akan apa yang aku lihat. Namun sayang, telinga ini telah tertutupi oleh hearphone yang telah menulikan telinga dan pikiranku. Alunan ballad music telah membuat perasaanku semakin tak karuan rasanya.

Aku lelah.. Aku hanya wanita biasa. Menangis tak akan menyelesaikan masalah. Rasanya sia-sia aku membuang air mataku yang berharga ini. Lagi pula rasanya air mata ini ingin habis. Tangisan ini membuat mataku pedih dan sungguh menguras tenaga dan perasaanku.

Malam ini akan ku habiskan dengan kemelut jiwa dan air mata..

3 hari sudah  aku disini, dikamar pengantinku dulu bersama orang yang amat aku sayangi. Namun kini aku sendiri. Apakah kelak akan begini ? Sendiri tanpanya disisiku ? Tanpa senyum dan peluk hangatnya yang selalu menyambutku dipagi hari ? Tanpa tatapan manja yang selalu membuatku luluh ? Tanpa dirinya yang selalu membuatku hangat ? Dan tanpa kasih sayangnya …

Aku tau aku ini bodoh. Menyiksa diri dengan mengurung diri dikamar selama 3 hari. Meratapi nasip masa depanku dengannya yang tak tau akan berakhir seperti apa. Mungkin hanya tuhan yang tau.

Terdengar suara derap langah kaki yang semakin jelas. Dapat ku tebak siapa itu. Suamiku. Suami yang telah berhasil membuat aku terluka.

Ia mengetuk lembut pintu kamar. Berusaha membuka kenopnya, namun gagal karena pintu itu terkunci.

“makanlah sayang.. Kau sudah 3 hari mengurung diri dan tidak makan. Aku takut kau sakit..”

Suaranya terdengar parau. Apa ia menyesal ? Apa ia masih peduli ? Nasi telah menjadi bubur. Semua  kejadian itu tak akan mungkin dapat terhapus dari ingatanku

=flashback=

Hati ini sudah tak karuan. Ini tak seperti biasanya pria yang sangat tampan itu pulang terlambat disaat yang penting sepeti ini. Bukankah ia biasanya selalu siap lebih awal dariku ?

2 jam sudah aku menunggunya. Dan sukses membuat makanan nikmat masakanku ini dingin. Ini sungguh membuatku kecewa.

Aku meraih handphoneku dan bermaksud menelponnya. Namun sebuah pesan mendahului masuk. Dengan rasa menggebu aku membuka pesan itu yang ternyata hanya sebuah pesan layanan dari operator. Aku pikir dari donghae oppa. Apa terjadi sesuatu dengannya ?

Aku memutuskan untuk menyusulnya ke tempat kerjanya. Memang agak jauh, tapi tak dapat lagi kupungkiri kegelisahan ini sungguh menyiksa dan membuatku tidak tenang. Apalagi karena handphonenya tak aktif. Pantas saja pesanku tak ada satupun yang ia balas. Apa handphonenya lowbat ? Aku harus berpikiran positif..

Kantor ini sudah sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang lembur berlalu lalang sibuk. Kakiku terus melangkah menuju ruangan yang tentu sudah ku hapal lokasinya. Disepanjang lorong, aku mendengar suara aneh. Suara yang emmh.. Entahlah.. Aku tidak mau berspekulasi. Namun semakin lama semakin terdengar jelas suara itu. Dan sepertinya berasal dari ruangan ini, ruangan yang ada dihadapanku. Ruangan sang manager, suamiku Lee Donghae. Oh god, aku mohon aku salah dengar. Aku mohon apa yang aku dengar tidak seperti yang aku bayangkan tuhan..  Aku mohon .. Tapi tuhan sedang tidak berpihak padaku..

Setelahku buka perlahan pintu itu betapa terkejutnya aku. Mata ini tak dapat berkedip dan mulut ini terbuka lebar membuka akses lebar untuk udara masuk yang sungguh aku perlukan sekarang. Tubuh ini kaku tak dapat bergerak. Darah ini seketika membeku, jantung ini rasanya berhenti berdetak dan otakku serasa berhenti bekerja. Pikiranku kacau ..

Seorang pria yang sangat aku kenal tengah astaga.. Bercumbu dengan seorang gadis berambut blonde panjang dengan tubuh yang dapatku lihat keseksiannya dari lekuk tubuhnya yang terekspose bebas. Pria itu terhimpit meja kerja, membuatnya terjepit. Dan si wanita mengangkat kaki kanannya keatas peja, membuat underware  pita pinknya terlihat. Tangan si pria bergerak bebas di atas dada si wanita. Dan, mulut itu tanpa henti saling beradu. Bahkan saking asyiknya, mereka tak menyadari kehadiranku yang seperti orang bodoh berdiri dipintu menyaksikan secara live suaminya yang sedang bercumbu dengan wanita lain.

Tess…

Air mata ini keluar sendirinya. Bahkan air mata ini tak dapat menghentikan aktifitas itu. Hingga akhirnya isakkanku yang tak dapat ku tahan pecah.

Mata itu, mata yang selalu memberikan kepercayaan padaku setiap kali memandangnya kini tengah menatapku shock. Tubuhnya sontak menegak dan membenarkan kondisi pakaian, dasi dan celananya yang berantakan.

“Heehyo ..” Kata-kata itu yang pertama keluar dari mulutnya. Mulut menjijikan bekas jamahan wanita sialan itu !

Panggilan itu membuatku semakin tak dapat mengendalikan emosiku dan membuat isakkanku semakin nyaring.

Tanpa pikir panjang, aku berbalik dan berlari pergi meninggal tempat nista ini.

“Heehyo !! Heehyo !! Dengarkan aku !!” Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar sebelum taxi melaju cepat.

=flashback end=

“sampai kapan kau akan begini Hyo-ah ? Sampai kapan kau akan mendiamkanku dan mengurung diri ?” Suara itu terus saja membujukku dan sesekali mengetuk pintu, berharap mendapatkan respon dariku.

“kita harus bicara..”

“diam tidak akan menyelesaikan masalah ..”

“AKU MOHON KELUAR LAH !!!” Bruak~

Terdengar suara keras yang berasal dari pintu. Ia menghantam pintu itu. Pasti. Mungkin ia geram dengan sikapku ?

Tubuhku seketika gemetar. Aku shock. Aku ketakutan. Ini sungguh membuatku takut. Tak pernah sebelumnya Oppa berteriak padaku apa lagi sampai melampiaskan kemarahannya dihadapanku.

Aku berusaha menutup mulutku dan memeluk diriku sendiri, menahan tubuhku yang terus gemetar. Tanpa sadar air mata ini mengalir lagi. Entah mengapa air mata ini tak kunjung habis. Padahal sudah tak terhitung berapa banyak cairan bening ini keluar.

Dari balik pintu, tak terdengar lagi suara. Mungkin ia sudah pergi.. Pergi meninggalkan ku dalam ketakutan dan keterpurukan seorang diri ..

Bruuuaaaakkk !

“Heehyo …” Donghae oppa menghapiriku yang terduduk diujung ranjang setelah ia berhasil mendobrak dan merusak pintu kamar kami.

Tak ada yang dapat aku lakukan selain menatapnya sinis dan menangis tanpa suara. Ia berjalan mendekatiku, menjulurkan tangan hangatnya padaku berusaha membantuku berdiri. Aku hanya diam.

“kita harus bicara !” Tiba tiba ia mengangkat kedua bahuku membantuku berdiri dan membawaku keruang tengah. Ingin rasanya aku memberontak, namun apa daya.. Tubuhku rasaya luluh lantak tak berdaya. Mungkin karena sudah 3 hari aku menangis dan tidak makan. Aku hanya mengikutinya, mengikuti apa keinginannya

Ia mendudukanku di sofa. Aku hanya diam. Ia berlurut dihadapanku, mensejajarkan dengan wajahku. Ia berusaha untuk menyentuh pipiku, namun aku tepisnya.

Aku hanya menunduk dalam diam. Sementara ia ? Ia menatapku dalam. Menatapku seolah memohon untuk aku menatapnya. Tapi sayang, aku tak sanggup melakukan itu. Melihatnya membuatku terbayang akan saat itu. Saat dimana jantungku seakan berhenti berfungsi. Berhenti berdetak. Berhenti mengalirkan darah keseluruh tubuhku. Membuat tubuhku seakan mati tak dapat bergerak. Membuat hatiku sangat sakit.

“sampai kapan kau akan begini ?”

“sampai kapan kau akan terus mengacuhkanku ?”

Ia mengangkat paksa kepalaku. Membuatku menatapnya. Namun aku lagi-lagi menepisnya.

“baiklah .. Aku  tau kau marah padaku. Kau berhak atas itu. Marahlah sesuka hatimu. Lampiaskanlah semua amarahmu padaku. Pukul aku ! Pukul !! Setidaknya bicara padaku ! Jangan diamkan aku seperti ini. Kau sugguh membuatku tersiksa !!” Ia berteriak dihadapanku. Membuatku kembali menitikan air mata untk kesekian kalinya.

“berhenti menangis ..” Ucapnya lirih, tangannya menyapu lembut pipiku. Menepis segala air yang ada di pipikku. Membuatku semakin larut dalam tangis. Kini isakkanku memecah kesunyian malam. Donghae oppa menarikku kedalam peluknya. Membuatku sejenak hanyut dalam kasih sayangnya.

“maafkan aku ..”

Kata-kata itu membuat air mataku semakin deras. Kini kemeja putihnya pun basah. Ia menepuk bahuku sesekali, berusaha menenangkanku.

Waktu terus berlalu..  Tubuhku lemas dalam pelukannya. Setelah 2 jam aku menghabiskan tangisku dipelukannya. Kini emosiku mulai dapat terkendali. Aku melepaskan pelukannya. Menyapu pipiku dengan ujung lenganku. Donghae oppa terlihat sedikit terkejut.

“apa kau sudah baikan ?” Ia berusaha menyentuh wajahku. Seketika tubuhku menghindar. Aku masih enggan disentuh oleh tangan menjijikan itu. Tangan yang telah menjamah tubuh wanita lain. Tangan yang telah menghianatiku.

Donghae oppa beranjak dari sofa dan pergi entah kemana. Aku tak peduli kemana ia akan pergi. Aku hanya peduli dengan perasaanku yang kini sungguh abstrak. Rasanya perasaanku baru saja diterpa badai dahsyat yang telah mengobrak abriknya hingga melantakan segalanya hingga tak bersisa. Pandanganku kosong dan pikiranku entah lari kemana. Namun tiba tiba Donghae kembali membuyarkan segalanya dengan secangkir green tea yang di sodorkannya padaku. “minumlah ..”

“aku tau kau sudah tidak punya tenaga .. Bagaimana kau bisa meluapkan isi hatimu jika kau tidak punya tenaga ? Minumlah dulu baru bicara”

Mungkin benar apa katanya. Aku kehabisan tenaga. Semua tenagaku terkuras habis karena mu Lee Donghae ..

Aku menyeruput green tea panas yang Donghae oppa buatkan untukku. Lalu meletakannya ke tempat semula diatas piring kecilnya. Aku menarik nafas dalam dalam berlahan lalu menghembuskannya berlahan pula .. Berusaha mengatur semua emosi dan unek-unekku yang sudah terdesak saking banyaknya.

“semua yang kau lihat kemarin.. Itu semua ..”

“tidak usah kau teruskan. Cukup akhiri semuanya sampai disini..” Airmata kini mulai mengaliri pipiku.

“maksudmu ?”

“ kita bercerai .. Sudahi semuanya sampai disini”

“apa ? Cerai ? Andwae !”

“sudahlah ..”

“ANDWAE !!!” Teriaknya. Wajahnya terlihat sangat marah. Kenapa ia marah ? Bukan kah ia seharusnya sudah mengetahui segala resiko dari yang ia perbuat ?

“aku sudah tidak..”

“andwae ! Andwae ! Andwae ! Andwaeeee !!!!!! Tidak akan ada perceraian !” Ia kembali menaikan nadanya hingga membuat telingaku sakit. Tidak cukupkah kau menyakiti hatiku dan kini kau ingin membuatku tuli ?!

“untuk apa dipertahankan jika tidak ada kesetiaan ? Huh~ semuanya percuma!” Aku menunduk menyembunyikan wajah memalukan yang penuh dengan air mata ini.

“sayang.. Kejadian semalam itu tidak seperti yang kau bayangkan. Ia itu Jessica..”

“Jessica ? Huhh~ jadi dia yang bernama Jessica ? Mantan yeojachingu-mu sewaktu SMA itu ?”

“ne.. Ia datang untuk bertemu denganku. Mengundangku keacara reoni sekolah. Hanya itu”

“apa kau bilang ? Hanya mengundang ? Apa kau pikir aku tidak melihatnya ? Apa kau pikir aku ini bodoh ? Aku tidak buta Donghae-ssi !!” Aku terbawa emosi hingga membentaknya. Ini kali pertama aku berteriak dihadapannya. Semua ini sungguh membuatku gila! Ya tuhan.. Kenapa kau memberiku masalah sebesar ini ? Cobaan ini sungguh berat ya Tuhan .. Apa salahku hingga ini semua menimpaku ?

“itu semua bisa aku jelaskan .. Aku  .. A.. Ku.. “

“hahh~ benar.. Tidak usah kau jelaskan. Semua itu sudah terlihat jelas. Awalnya aku berpikir, kenapa semua ini bisa terjadi . Tapi kini aku sadar. Aku sadar keadaanku. Aku ini hanya wanita rumah tangga biasa yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Jessica terlebih aku tak kunjung memberimu keturunan…”

“kau bicara apa huh ?!”

“aku tau, aku ini tidak pantas bersanding dengan seorang Lee Donghae, sang pengusaha muda sukses yang tampan.. Seharusnya dari awal aku memikirkan itu. Tapi cinta telah membutakanku. Seharusnya aku mendengar apa kata orang, kalau aku tidak pantas untukmu..”

“BERHENTI !”

“wae ? Apa kata-kataku tadi benar ? Hiks~”

“bukan seperti itu Hyo-ah.. Kau adalah wanita tercantik bagiku. Kau adalah hidupku. Aku tau aku ini bodoh. Aku adalah laki-laki terbodoh karena telah membuatmu menangis.. Maafkan aku ..”

“apa maaf-mu akan merubah pemikiranku ? Apa semua itu bisa membuat hatiku kembali seperti semula ? Apa semua itu akan membuatku melupakannya ?” air mata ini keluar begitu saja. Bahkan ini semua tidak bisa mengungkapkan seberapa sakitnya hatiku saat ini.

“aku mohon.. Hentikan. Aku tak sanggup melihatmu menangis ..”

“lepaskan tangan mu !! Jangan pernah menyentuhku !!” Aku menghempaskan tangannya. Menyapu airmataku tak akan dapat menyapu serpihan kaca yang tebarkan dihatiku, Oppa..

Kami hanya diam satu sama lain. Aku, termenung dengan sesekali air mata menghiasi. Menatap langit malam dari jendela. Meratapi nasip rumah tanggaku. Sedang kan Donghae oppa, ia terus memandangiku dalam diam. Berusaha menghipnotisku dengan paras rupawannya. Aku takut, kalau aku termakan oleh pesonanya. Aku takut menyesal akan yang telah aku ucapan.

Tidak ada yang memecah keheningan hingga akhirnya Donghae oppa berdiri “istirahatlah .. Kita bicarakan besok saja ..” Ia pergi melangkah meninggalkanku. Ia menjambak rambutnya dan mengacaknya frustasi. Bukan kau yeobo, aku lah yang frustasi. Aku lah yang menderita. Disini akulah yang menjadi korban. Dan akulah yang menderita sakit ini. Walau aku tau kau sakit, tapi apakah itu sebanding dengan sakit yang aku rasakan ?

Donghae oppa membuka pintu kamar tamu dan berbalik menatapku yang masih duduk termenung ditempat semula, “nanti kau sakit.. Makanlah dulu sebelum tidur..”

Makan ? Aku bahkan tidak dapat lagi merasakan lapar. Tubuh ini mati rasa rasanya.

“uruslah secepatnya ..” Aku pergi menuju kamar utama. Aku membanting pintu kamar dengan keras yang aku yakin terengar hingga keluar rumah.

Hidupku kini hancur.. Tak ada lagi yang dapat kuharapkan dari pernikahan ini. Ini sungguh menyiksaku. Luka ini sungguh dalam. Sungguh dalam. Entah berapa lama luka itu dapat terkubur. Tuhan bantu aku …

Matahari begitu menyilaukan mataku. Sinar-sinar itu masuk menembus celah celah jendela dan memenuhi kamar ini. Memaksa mataku untuk berakomodasi maksimal. Entah mengapa kepala ini berat rasanya. Seperti memikul jutaan beban derita. Bukankah memang iya ?

Mata ini serasa enggan terbuka, berat rasanya. Pasti mataku kini bengkak, sembab. Ini membuatnya susah terbuka. Dengan susah payah aku memaksakan diri untuk bangun. Ini karena perutku yang terasa sangat lapar. Ahh.. Aku baru ingat, aku sudah 4 hari tidak makan. Pantas saja aku lapar.

Aku pergi kekamar mandi untuk mencuci wajahku dan menggosok gigi. Pukul 08.00. Oppa  pasti sudah bergi bekerja. Aku memutuskkan untuk pergi ke dapur.

Namun sosok namja bercelemek membuatku terkejut. Ia tersenyum kearahku, “kau sudah bangun ? Baguslah.. Dagingnya baru saja matang. Mari makan” ia menarikkan kursi untukku.

Apa dia pikir aku bisa berubah dalam waktu semalam ?

Aku memasang wajah datarku. Menatapnya dingin dengan kehampaan. Ia menarik nafasnya lalu berjalan ke arahku. Menggenggam tanganku. “ayo makan.. Wajahmu pucat sekali “ kini ia menarik ke ruang makan, mendudukanku lalu ia duduk berseberangan denganku.

“kau pasti sangat lapar .. Ini, aku membuatkanmu soup iga dan daging panggang favoritmu. Makanlah yang banyak” Donghae oppa melayaniku, mengambilkan nasi dan lauk buatannya untukku, menuangkan air  dan memberikannya padaku.

Rasanya sungguh aneh. Hatiku rasanya sakit saat melihatnya, namun disatu sisi rasa rinduku menumpuk disudut hatiku. Aku belum bisa menerima keadaan ini.. bagaimana bisa ia bersifat seolah-olah tak terjadi apa-apa ?

“jangan hanya diam. Makanlah ..”

Aku memakan semuanya dengan semangat . Jika bukan karena perut ini merintih, aku akan menghindari segala sesuatu yang berhubungan denganmu tuan Lee.

Tak sedikit pun aku membuka suara. Aku fokus pada  sepiring nasi beserta lauk yang ada dihadapanku. Sesekali ia mengajakku bicara. Dan perlakuanku tetap sama, diam. Aku sudah selesai makan, begitu pula dengannya. Saat aku hendak beranjak, tangannya mencegahku.

“tunggu..” Aku hanya memberikannya tatapan –ada apa-

“duduklah dulu.. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu..” Ia menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk. Aku duduk manis menanti apa yang akan ia katakan. Ia terlihat gugup, cemas, ragu, dan entahlah .. Ia menggerakan jarinya diatas meja makan, menciptakan bunyi yang terdengar ragu.

“semua itu salahku .. Aku terlalu bodoh hingga tergoda. Maafkan aku”. Kau tau apa yang aku rasakan saat ini ? Aku seperti dilempar keliang lahat dan dilempari puluhan batu besar lalu dikubur hidup-hidup. Kata-katanya bak petir dipagi buta. ‘tergoda’ ? Apa maksudnya itu ia mengakui perbuatannya ?

“aku tau kau muak denganku. Aku sadar. Aku telah melukai hatimu. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan itu. Waktu itu aku khilaf. Maafkan aku “

Plaakkk

Aku memparnya reflek. Istri mana yang tidak akan berbuat sepertiku jika mendengar pengakuan dari suaminya kalau ia berseligkuh karena khilaf.

“maaf kan aku ..”

“sudah berapa lama ?” Aku berusaha menahan suaraku dan emosiku. Lelah rasanya.

“sebulan terakhir…” dengan nada berat ia mengatakannya, menundukan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya dalam tangkupan telapak tangannya. Apa dia bilang ? Sebulan ? Sebulan lamanya ia menduakanku dan bercinta dengan wanita sialan itu ? Kau sungguh terlalu Oppa !

“a..pa.. S..sebulan ? Ck~ “ butiran butiran itu kembali menghiasi wajah pucatku. Tak dapat lagi rasanya aku membendungnya.  Donghae oppa menyodorkan sekotak tissue. Sungguh berguna untukku saat ini Haeae. Terimakasih.. Terimakasih atas tissue dan sakit yang ciptakan dihatiku.

“aku tau aku salah.. Maafkan aku.. Entah apa yang membuatku jadi betindak bodoh seperti itu. Aku terlalu bodoh ..” Ia berusaha menggenggam tanganku, namun aku langsung berdiri menghindarinya, “jika kau tak kunjung mengurus perceraian kita, biar aku sendiri yang akan mengurusnya” aku pergi meninggalkannya. Terasa sesuatu yang hangat menjalar keseluruh tubuhku. Menghentikan langkahku. Kehangatan yang sungguh nyaman namun kini hambar bagiku. Ia memelukku dari belakang. Erat. Sangat erat, seakan takut kehilanganku. Aku merasa kemejaku basah. Ia menangis. Isakannya terdengar jelas ditelingaku. “aku mohon maafkan aku ..” Ucapnya disela tangisnya. Namjaku yang dulu kuat, kini menangis dihadapanku. Tuhan, apa aku salah ? Apa aku berdosa ? Apa aku salah jika membuat orang yang aku cintai sekaligus melukaiku menangis seperti ini ?

Aku melepas tangannya dari pinggangku. Aku pergi meninggalkannya dalam tangisnya. Ia                terduduk dilantai. Sungguh, aku tak sanggup melihatnya seperti ini. Orang yang selama ini aku cintai, orang yang mengisi hidupku 3 tahun terakhir, orang yang selalu aku banggakan kepada semua orang,  menangis karena kekejamanku. Ani, kekejaman hatiku yang melampiaskan akan sakitnya.

Oppa..  Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus kembali seperti semula dan menganggap malam itu tidak pernah ada. Namun hatiku tak sanggup. Apakah aku harus pergi meninggalkan segalanya. Tapi aku tak sanggup, meninggalkan oksigenku. Jadi apa yang harus aku lakukan ? Eeergh~

Suasana sepi. Tak terdengar suara apapun kecuali kicauan burung yang selalu menyemangatiku. Itu artinya ia telah pergi. Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk keluar. Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk mengurung diriku lagi dikamar. Aku lebih memilih menikmati kehidupanku didalam kamar darimada melihat wajah itu. Wajah yang membuatku tak sanggup untuk melepasnya. Wajah yang selalu memberi warna dihidupku. Baik terang ataupun gelap.

Aku pergi kedapur dan mendapati sepiring nasi goreng. Ia yang memasak. Aku tau itu. Aku beralih ke kulkas mengabaikan piring itu. Aku mengambil beberapa buah-buahan dan kembali kekamar. Apa yang bisa aku lakukan sekarang ? Hanya merenung dan merenung. Memikirkan sesuatu yang menyakitkan bagiku. Dia ? Aku tidak tau apakah ia juga sakit sepertiku atau tidak. Melihat sikapnya yang seperti ini meyakinkanku akan sesuatu. Ia tidak sakit, melainkan merasa bersalah. Ia merasa bersalah padaku karena telah menghianatiku. Bukankah begitu ? Aku rasa

Mungkin ia merasa bersalah karena telah menodai 3tahun kebersamaan kita. Aku tau, air mata itu bukan untukku, melainkan kasihan . Kasihan karena telah menduakanku.

Dengan malas aku melangkahkan kakiku keluar kamar, setelah berkali-kali seseorang yang diluar sana menekan bel dan membuat telungaku gerah. Tidak seperti biasanya, siapa yang berkunjung dipagi pada kerja seperti ini. Aku mengintip pada lubang pintu dan mendapati sesosok wanita berambut panjang membelakangi pintu. Siapa dia ?

Aku membuka pintu perlahan dan sedikir berdeham dan itu membuatnya berbalik.

Tuhan.. Apa aku boleh meminta sesuatu ? Jangan masukan aku ke dalam neraka jika aku membunuhnya sekarang juga. Aku ingin mencincangnya dan memblendernya lalu memberikannya kepada anjing seberang. Sungguh, aku benci melihatnya !

Wanita itu tersenyum dan membungkuk kearahku. Aku bukan wanita jahat namun aku juga bukan wanita baik. Aku menutup pintunya, namun belum sempat tertutup rapat, wanita itu menahannya. “jeongsonghamnida.. Bisakah kita bicara sebentar nyonya Lee ? Aku mohon jangan tutup pintunya” ia mendorong pintunya dan menyembulkan kepalanya diantara sela pintu. Aku tak menggubrisnya dan terus berusaha menutup pintu. Namun aku menyerah karena wanita sialan itu tidak mau kalah. Aku berhenti berurusan dengan pintu dan meninggalkannya. Dapatku dengar derap langkah dibelakangku, rupanya dia mengikutiku. Aku memutar badanku dan mendapati ia berhenti dan menunduk.

“aku bahkan tak mempersilahkanmu masuk nona” aku memandangnya tajam. Ia mendongak dan pandangan kami bertemu. Matanya sendu, sepertinya ia sedang beracting.

“maafkan aku..”

Aku duduk disofa dan ia juga mengikutiku, duduk di seberangku. Ia masih menunduk dan terlihat gugup, terbukti sedari tadi yang ia lakukan hanyalah memilin milin ujung kemeja kentatnya. Aku benci melihat gayanya berpakaian. Kemeja tipis kentat, rok yang singkat dan lagi lagi kentat, belum lagi kerah kemeja yang ia gunakan dengan belahan rendah. Ia sungguh pantas menjadi gadis penggoda. Sungguh menjijikan!

Kami diam. Suasana hening, rasanya seperti badai salju menghantam ruangan ini. Aku terus menatapnya. Bukan pandangan ramah seperti mana biasanya aku menatap para tamuku. Tapi tatapan benci dan muak. Ia hanya menunduk dan sesekali menatapku, membuatnya tau kalau aku terus menatapnya.

“maafkan aku Heehyo-ssi” kata itulah yang memecah keheningan diantara kami. Lagi lagi ia membungkukan tubuhnya. Terus mengulang kata maaf itu hingga beberapa kali. Apa kau pikir kata maaf bisa menghapus lukaku ? Apa kau kira kata maafmu itu bisa membuat hubunganku dengan Donghae oppa kembali seperti semula ? Sebegitu berharganyakah kata maafmu itu untuk ku ? Tidak sama sekali

“maafkan aku .. Aku.. Sungguh menyesal” tambahnya. Bukannya aku ini jahat, tapi bukankah sikap dingin yang aku perlihatkan ini wajar kulakukan kepada selingkuhan suamiku  ?

“aku tidak butuh maafmu..” Kataku dingin. Ia mengangkat kepalanya, menatapku dengan rasa permohonan.

“benarkah ? Heehyo-ssi, aku datang kemari dengan merendahkan egoku, membuang harga diriku jauh-jauh, hanya demi mengucapkan kata maaf kepadamu. Dan sekarang kau bilang kau tidak butuh maafku ?” Ekspresinya berubah, dari wajah sendu menjadi wajah wanita brengsek. Ia berbicara padaku dengan menaikan suaranya. Apa ia marah padaku ?

“kau.. Keluar dari rumahku !!” Aku, masih berbaik hati padanya. Aku masih menahan emosiku yang sudah sampai diubun-ubun ingin meledak. Bagaimana bisa ia bilang ia datang dengan merendahkan egonya dan membuang harga dirinya ? Bukankah itu sudah seharusnya ia lakukan ?

“kau bahkan sekarang mengusirku ? Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku ? Kau sungguh keras kepala sekali..” Katanya dengan santai. Apa aku tidak salah dengar ? Ia bilang aku ini keras kepala ?

“apa ? Aku keras  kepala ? Iya Jessica-ss, aku ini memang keras kepala. Lalu apa masalahmu ? Jika kau tidak ikhlas datang kemari, tidak usah datang ! Itu jauh lebih baik. Toh aku tidak sama sekali mengharapkan kedatangan dan maaf darimu, apalagi pejelasan darimu. Dan, iya aku mengusirmu. Apa sekarang kau bisa keluar Jessica ?” Aku sedikit terpancing emosi. Aku sedikit berteriak dihadapannya. Wanita ini sugguh tidak tau diri, ia bahkan tau kalau aku mengusirnya, tapi ia tak kunjung mengangkat pantatnya dari sofaku. Ingin rasanya aku mengangkat bokongnya dan menendangnya keluar atap.

“dan kau.. Cepat marah. Lihatlah! Pantas saja Donghae oppa frustasi setiap dirumah. Ia bilang kau sungguh keras kepala, tidak mau memaafkannya. Apa sebenarnya yang kau inginkan Heehyo-ssi ? Kau tidak melepasnya tapi juga tak menahannya” aku terkejut mendengarnya. Sepertinya ia sangat dekat dengan Donghae oppa. Apa Donghae oppa  menceritakan tentangku kepadanya ? Haahh~ ini sungguh keterlaluan. Sebegitu dekatnyakah mereka ?

“apa hakmu menilaiku ? Kau tidak berhak ! Jika aku keras kepala dan cepat marah, lalu kau apa nona ? Kau seorang gadis penggoda perebut suami orang, perusak rumah tangga orang yang tidak tau sopan santun dan tidak tau malu. Kau itu muka tembok ! Kau mengunjungi istri dari lelaki yang kau rebut dan mengucapkan kata kata tidak sopan yang tak selayaknya kau ucapkan bahkan dihari pertama pertemuan. Kau seharusnya merasa bersalah atas perbuatan tercelamu. Tapi kau ? Tidak ada sama sekali terlihat rasa bersalahmu. Bahkan disaat kau mengucapkan kata maaf berkali kali sekalipun” aku emosi, aku meluapkan semua emosi dengan tenaga yang masih aku miliki. Aku tidak tau dia itu apa, tapi ia sungguh wanita sialan!

“kau bilang aku perebut suami orang ? Kau tau Heehyo-ssi, bukan aku yang merebut tapi kau! Selama ini belum pernah ada kata perpisahan diantara kami. Belum pernah ada. Kami bahkan masih berstatus sepasang kekasih. Tapi, kaulah yang merebutnya. Kau menikah dengan kekasih orang, kekasihku! Adakah kata maaf yang katakan padaku ? Nothing” wanita terkutuk ini berucap kasar dan sedikit berteriak. Bukankah seharusnya akulah disini yang marah. Kenapa ia mengambil alihnya ? Brengsek !!

Braakkkk~ aku memukul meja sekuat tenaga. Ia benar benar membuatku marah !!

“kau lupa, kau pergi meninggalkannya. Kau telah mencampakkannya ! Dan lebih baik, sekarang kau pergi !!!!!! Sebelum aku menghajarmu !”

“silahkan jika kau ingin menghajarku. Aku tidak takut. Sekali lagi aku tegaskan padamu nyonya Lee, kau yang telah merebutnya dariku. Kau yang ..”

Plaakkk

Aku menghentikan kata kata busuk yang keluar dari mulutnya, aku menamparnya keras hingga ia terjatuh. Ia meringis kesakitan sembari memegangi perutnya. Apa ia acting lagi ? Dasar wanita rubah !

“Jessica…” seseorang berteriak dari ambang pintu. Aku menoleh dan melihat Donghae oppa berlari kearahku. Ani, lebih tepatnya kearah Jessica. Ia membantunya berdiri. Jessica masih meringis kesakitan. Sedangkan aku ? Aku terperangah melihatnya, ini seperti melihat adegan sinetron picisan. Aku penonton disini ? Apa aku jadi pengganggu ?

“apa yang kaku lakukan Hyo-ah ? Kenapa kau jadi kasar seperti ini ?” Donghae oppa –yang masih menggandeng atau lebih tepatnya mempopong Jessica- membentakku. Ia berteriak kepadaku demi wanita brengsek itu. Ini menyakitkan.

Aku tersenyum pahit dengan airmata dipipiku dan pergi meninggalkan mereka. Daripada aku menambah dosaku dengan memaki mereka dan membunuh mereka, lebih baik aku pergi. Aku yang mengalah dan meninggalkan arena.

Namun, ia mencengkram tanganku erat. Aku berusaha memberontak namun ia semakin mencengkra kasar tanganku.

“kau membuatku sakit, brengsek !” Aku meneriakinya dan ia menamparku. Seorang pria yang perah berjanji dialtar akan selalu menyayangi dan melindungiku, pria yang pernah membahagiakanku selama 3tahun, pria yang selalu membuatku tersenyum setiap kali melihatnya bahkan disaat ia menutup matanya. Air mataku semakin deras mengucur tanpa bisaku kendalikan.

“kau membelanya, dan kau menamparku .. Biarkan aku pergi !!” Aku berteriak dan memejamkan mataku. Namun kemudian aku merasakan ia menyentuh bahuku, “tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku ? Dan bicara baik baik denganku ? Kenapa kau jadi seperti ini huh ?” Ia menarikku kedalam pelukannya dan dengan keras aku menolaknya. Aku mendorong tubuhnya.

“Heehyo..”

“oppa… perutku sakit setelah terjatuh tadi oppa..”

Aku terdiam .. Donghae oppa menoleh kearahnya

“aku takut jika terjadi sesuatu dengan kandunganku”

Tuhan.. Bisakah kau cabut nyawaku untuk saat ini saja ? Aku terlalu takut dengan pikiranku sendiri. Aku takut kalau semua yang aku pikirkan ini benar adanya. Apa dia hamil ?

Tuhan.. Apa salahku selama ini ? Apa aku pernah mengecewakanmu ? Kenapa kau memberikan cobaan yang begitu berat dalam hidupku ? Tuhan… aku sungguh tersiksa. Keluarkan aku dari black hole ini .

Tak pernah aku meragukakan cintanya. Aku menyerahkan hati dan pikiranku untuk mencintainya. Kuserahkan hidupku untuk mencintainya. Tapi kenapa ia tidak ?

Jessica hamil. Anak Donghae oppa. Jika jadi aku, apa yang akan kalian lakukan ? Bunuh diri ? Hahh~ jujur, itu sempat terpikir olehku. Tapi apakah itu terlalu sepele, meninggal bunuh diri hanya karena suamimu berselingkuh dan memiliki anak darinya. Itu memang berat, bukan sepele. Tapi haruskah aku menyia-nyiakan nyawaku hanya karena lelaki brengsek sepertinya ? Tidak, nyawaku terllu berharga disbanding dirinya.

Dan kini, aku tengah duduk berdampingan dengannya. Di pengadilan. Disidang pertama perceraian kami. Aku menggugatnya cerai. Untuk apa aku mempertahankan hubungan yang menyakitkan seperti ini ? Ini hanya akan menyiksaku. Menyakitkanku. Lebih baik aku pergi dan melupakan segalanya.

Ia bersikeras menolak perceraian ini. Hingga hakim memutuskan untuk mengakhiri sidang. Dipertemuan berikutnya akan memasukki agenda meditasi. Pengadilan masih berupaya menyatukan kami, berharap kami dapat merubah keputusan kami dan kembali seperti sediakala.

“sampai kapanpun, keputusan saya bulat dan tidak akan pernah berubah. Fakta telah didepan mata dan saya rasa siapapun akan mengambil jalan yang sama dengan saya”

Itulah kalimat yang terlontar setelah mendengar palu pengadilan beradu dengan meja hijau. Donghae oppa menatapku dalam, berusaha menggenggam tanganku namun aku menolak. Bangkit dan pergi meninggalkannya ku rasa jauh lebih baik. Aku tidak mau berlama-lama berada disampingnya. Itu memuakkan untukku.

Sikapku berubah. Selingkuh, itu memukulku dengan rotan, sakit dan menyedihkan. Aku mungkin bisa memaafkannya walau memerlukan waktu yang lama dan tidak akan pernah pulih seperti semula. Tapi menghamili wanita lain –selingkuhannya- itu keterlaluan. Memukulku dengan besi dengan paku diujungnya. Sungguh teramat sangat menyakitka. Kau ingin rujuk ? jangan pernah harap aku akan kembali kepadamu. Karena aku tidak akan pernah mau kembali.

“kita harus bicara. Jangan menolak dan ikut aku!” Aku merasa tanganku ditarik paksa, Donghae oppa. Ia menarikku dengan cengkraman yang tidak bisa dikatakan lemah. Mendudukanku disebuah café diseberang gedung pengadilan. Lama kami terdiam. Aku menatap kearah luar jendela, sedangkan dia aku tau ia sedang menatapku. Aku tak mau menatapnya. Bahan sekarang aku benci melihatnya, bagaimana bisa aku menatapnya ?

“katakan lalu biarkan aku pergi” aku buka suara setelah pelayan mengantarkan 2 cangkir kopi. Aku menyeruputnya dan mengembalikannya kembali keposisi semula.

“kenapa.. Kenapa kau melakukannya ?” Dapatku dengar suara kecilnya dengan penahanan disetiap katanya. Mungkin ia berusaha menahan marahnya karena aku menggugatnya tanpa sepengetahuannya. Ia pasti kaget saat pegadilan mengiriminya surat perceraian. Ya, memang bukan aku yang memberikanya padanya, melainkan pengadilan sendiri yang mengirimkan surat itu.

“ karena aku ingin”

“kenapa kau tidak membicarakannya denganku sebelumnya ???” Bentaknya kasar. Ia berteriak hingga membuat pengunjung lain memperhatikan kami.

Aku menarik ujung bibirku “untuk apa ?”

“apa aku pernah bilang ingin bercerai ? Tidak ! Aku tidak menginginkannya ! Aku tidak akan menyetujuinya. Seharusnya kita membicarakannya sebelum sampai sejauh ini”

“apakah aku ingin ? Tidak. Tidak seorang pun didunia ini yang menginginkan perceraikan. Tapi keadaan tidak memihak padaku. Tidak perlu membicarakannya karena itu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga”

“sebegitu inginnya kah kau bercerai denganku ?” Dapatku lihat Donghae oppa mengepal tangannya erat.

“ya” jawabku lantang. Mataku mulai berair. Aku menahannya untuk tidak menangis dihadapannnya. Aku tidak mau ia melihatku dengan airmata. Aku tidak mau ia tau kalau aku sungguh berat melepasnya. Tapi Tuhan, aku sungguh tidak bisa terus bersamanya. Itu menyakitkan

“aku tidak mau” kukuhnya. Aku menatapnya dan melihat aura keseriusan di wajahnya.

“lalu ? Ingin kau apakan wanita itu ? Bagaimana dengan anaknya ? Kau ingin menelantarkannya ? Hahaha brengsek!”

“aku memang brengsek, itu karena kau. Aku brengsek karena teralu mencintaimu. Apa kau tidak tau itu ?” Ucapnya menggebu. Aku tertawa miris. Lihat keadaan kita sekarang dan dia masih berani bilang mencintaiku

“bulshit!”

“kau tidak percaya ? Hyo, demi tuhan aku-“

“berhenti membawa nama Tuhan. Cintakah namanya jika selingkuh ? Cintakah namanya jika kau menghamili orang lain ? Apakah itu deskripsi cintamu ?” Teriakku. Mendengar kata cinta dari mulutnya membuatku ingin membunuhnya

“Hyo.. Berapa kali aku harus katakana kalau itu-“

“khilaf ? Astaga.. Donghae-ssi, kau pikir aku idiot ? Ia hamil, anakmu. Kau sudah menidurinya dan menghasilkan. Itukah khilaf ? Hah~”

“maafkan aku” ucapnya lirih, ia menundukan kepalanya dan lebih memilih menatap ujung sepatunya.

“kau tau, ini sungguh menyakitkan. Semuanya hancur. Cinta, perasaan, dan kepercayaan. Semuanya lenyap. Aku menyerahkan segalanya dan kini segalanya terhempas kedasar jurang. Kau menyiakan segalanya.  Aku mempercayaimu dengan segenap hatiku, tapi kau mengkhianatiku. Kau tau akibatnya, aku membencimu. Cinta yang dulu memenuhi hatiku kini memudar dan semuanya terganti dengan rasa sakit dan benci. Aku tidak tau dimana letak kesalahanku hingga jadi begini”

“Hyo-“

“aku masih mencintaimu Hyo” tambahnya. Ia menggenggam erat tanganku. Aku hanya diam. Tenaga sudah terkuras habis.

“tak adakah kesempatan kedua untukku ? Aku berjanji akan-“

“jangan pernah berjanji jika tidak kau tepati. Kau tentu tau, bagiku pengkhianatan itu artinya meninggalkan. Kau berkhianat, itu artinya kau meninggalkanku. Selingkuh karena sudah tak ada rasa dengan pasangan. Untuk apa kembali ?

“aku mohon Hyo..”

“kau tau, terlalu aku membencimu hingga airmataku tak keluar. Tak ada setitikpun airmata pun untukmu. Itu artinya kau sudah tak berarti untukku”

Kadang aku berpikir, apa jalan yang aku ambil ini benar ? Apa keputusan ini yang aku inginkan ? Apa kelak aku menyesal ? Melepas sapphire yang sangat berharga ditengah laut. Ia tidak akan kembali. Aku beruntung sempat memilikinya, tapi ia beruntung karena telah bebas dariku. Aku tau kalau selama ini ia tertekan denganku. Aku bukan istri yang ia harapakan yang dapat ia pamerkan kemana-mana. Aku ini hanya seoranng istri lugu sederhana yang tidak mengerti apa-apa. Aku bak parasit yang menempel padanya. Aku tidak berguna dan tidak berharga.

Palu hakim sudah bertaut mengghasilkan bunyi yang mengerikan bagiku. Itu artinya aku sudah resmi berpisah darinya.

Menandakan semuanya telah berakhir. Dan hidupku yang baru akan dimulai dari sekarang.

Entah bagaimana aku hidup tanpanya…

Hahahaha… akhirnya fanfic saya terbit juga sodara-sodara ^^

Ini fanfic yang niatnya mau aku dibikin galau tapi ujungnya malah alay HAHAHA

aku sendiri yang baca aja terusterang malu =_=

comment if you read this ^^

20 thoughts on “Fanfiction – End Of Our Marriage

  1. Syg bgd ga da sequel’a.. Tuh bnrn haepa yg hmillin jessica.. Gmna khdupan hae bis crai ma haeyo.. Tyara bkn seq’a dund.. Pnsrann…

    Balas
  2. wah dri awal smpai akhir bner2 nyesek,,itu si ikan Mokpo gk thu dri apa gk ttau malu sech..dh jga kthuan slngkuh smpai Sica hamil,,masih aj ngumbar kta cinta k Hyo eonni,,aduh bang Mokpo,,dmna prsaany..ikt emosi nhe….Hae Oppa bgni….,,pgen jambak Hae Oppa,,,,

    Hyo eonnie fighting,,,prgi aj k Kyu Oppa,,,hehe,,,ad seq y gk nhe FFy saeng??,,,coz dh demen nhe FF..biar Hae Oppa nyesel..senyesel2 y…smpai,,hmpir mati n gk bza nafas#mianOppa#,,,hehe

    Balas
  3. Oooh my.. Donghae! Sebodoh itukah kamu?? Mengkhianati HeeHyo demi jessica? Wanita mana coba yg engga marrah liat pria-nya selingkuh + ngebela wanita lain😥😀

    Balas
  4. ah gila ini menguras emosi banget -_- sukses ya buat author nya huhu …emang dasar brengsek bget si hae gue jga kalo jadi hyoo udah gue mutilasi tuh anak… well sama kek yang lain ,need sequel🙂

    Balas
  5. q nangiss.. huuaaa sedih bgt. nguras emosi.. eonni ini da seq ga??? ksian hyo berakhir kya gtuh. q pngin happy end.. please??? #puppysmile

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s