AUTOBIOGRAFI

Autobiografi ini aku bikin waktu kelas X. Dan ternyata arsip file ini yang disekolah terbakar. untungnya masih ada di notebook-ku. Lagi-lagi penyakitku overdose narsisku kumat. Niat share cuman mau berbagi bagi yang membutuhkan.

INGAT !! INI 100% KARANGAN BEBAS !! NOT REAL !! DON’T BELIEVE THIS POST !!

Check baby check ^^

BAB I

Rayi Heristyara itu ..

Terlahir ke dunia merupakan takdir Tuhan. Siapapun takan ada yang tahu bagaimana takdir kita kedepan. Saya Rayi Heristyara, seorang gadis  kelahiran Rantau 22 Desember 1994.  Nama Rayi Heristyara diambil dari Rayi yang berarti adik paling kecil (dalam bahasa Jawa) dan Heristyara yang merupakan singkatan dari nama kedua orangtua saya. Saya Tinggal di Rantau, Kalimantan Selatan, Indonesia. Tidak ada yang special dari saya. Hanya gadis biasa yang selalu berusaha untuk ceria. Namun, saya sebenarnya juga tipe orang dengan tingkat emosi yang cukup tinggi.  Pada dasarnya, Tuhan menciptakan makhluk dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Itulah yang saya rasakan. Dengan dianugerahi badan yang bisa dikatakan tidak kecil, saya menganggap bahwa inilah kelebihan saya. Mungkin lebih tepatnya kelebihan berat badan. Tak ada sedikitpun rasa minder dalam diri saya. Karena itulah yang membuat saya merasa beda dengan yang lain. “apakah saya memiliki kelebihan yang lain ?” kata itu terkadang melintas dalam benak saya. Saya bukanlah orang yang pintar, namun tidak bodoh. Saya juga bukan orang  yang gemar jalan-jalan. Saya lebih memilih untuk menetap di rumah dan menghabiskan waktu dengan menonton televisi, menonton film, mendengarkan music, membunuh waktu di depan laptop, atau bahkan tidur. Tidak bisa diam, itulah sifat saya yang lain.

BAB II

Rikayat Hidup Rayi Heristyara

Massa Kanak-Kanak

Saya adalah anak ketiga dari tiga orang bersaudara. Ayah saya, seorang pegawai negri sipil bernama Herry Purnomo. Serta ibu Dian Sulistyaningsih. Saya sering memanggil mereka dengan sebutan papa dan mama. Mereka bukanlah asli orang Kalimantan. Ayah saya berasal dari Madiun, dan ibu orang Surabaya.  Saya memiliki dua saudara laki-laki, yaitu Bagus Herdimas dan Pradifta Hernanda. Saya sering memanggil mereka dengan sebutan mas, karena itu telah menjadi kebiasaan keluarga kami yang masih kental dengan adat Jawa. Kedua orang tua kami tidak pernah membedakan atau pun pilih kasih. Mereka mendidik kami denga keras, tegas, dan bijaksana. Mungkin ini sebabnya saya kurang feminine.

Saya di lahirkan di Rantau, atau lebih tepatnya di kamar yang saya tempati sekarang. Kata mama, di antara saudara saya yang lain sayalah yang paling tidak merepotkan saat dikandung.

Sewaktu kecil , saat saya berumur 5 tahun, saya terkenal gesit, lincah dan nakal, tidak mau diam dan duduk merenung. saya Juga sering berbicara sendiri dengan dandanan ala orang dewasa. Mengenakan baju, tas, make up, serta tak lupa sepatu hak tinggi milik mama. Menyanyi, menari, dan berbicara sendiri di depan cermin. Tidak mempedulikan orang lain dan memiliki dunia khayal sendiri. Waktu itu saya merasa memiliki teman khayalan yang hanya dapat saya lihat. Dan itu semua membuat saya selalu di tertawakan oleh kakak-kakak saya. Malu, itu yang saya rasakan. Namun apalah peduli anak umur 5 tahun akan malu. Tetap saja kebiasaan buruk itu berlanjut hingga saya sekolah dasar.

  • Masa Taman Kanak-Kanak (TK)

Sejak di taman kanak-kanak, saya sudah di ajarkan untuk mandiri dengan pulang sekolah tanpa di jemput orang tua. Awalnya sungguh membuat saya takut. Seorang anak TK pulang seorang diri. Namun perasaan itu hanya sebentar, karena lama kelamaan saya terbiasa dengan situasi ini.

Saya memiliki banyak sahabat saat TK. Namun semuanya hanya sesaat karena kami selalu terpisah saat kenaikan kelas. Selain itu juga karena saya menjalani TK selama 3 tahun di TK Tunas Tapin, sedangkan teman-teman saya yang lain hanya 2 tahun . Misalnya saja saat TK nol kecil, saya selalu bertiga dengan dua sahabat kecil saya, yaitu evi dan luki. Kami selalu duduk dan jalan bersama. Pada saat TK nol sedang saya bersama matin dan leni. Dan saat TK nol besar, saya bersahabat dengan Yaya dan Pina.

Saat TK saya orang yang penakut. Sampai-sampai ke toilet pun saya minta di temani. Ada sebuah kejadian yang tidak dapat saya lupakan, sewaktu hari pertama masuk taman kanak-kanak, saat itu saya datang terlambat dan hanya mendapat satu sisa tempat duduk. Di samping bangku kosong tersebut duduk seorang anak laki-laki dengan badan yang besar, hitam, gundul bernama Hafiz Batubara tengah menatap saya. Karena di paksa ibu guru akhirnya saya mau duduk di tempat tersebut. Saat duduk anak itu menatap saya dengan tatapan yang sangat menakutkan bagi saya yang masih berumur 4 tahun. Sontak seketika saya menangis. Seisi ruangan memandang kearah saya. Mama dan ibu guru langsung membawa saya keluar untuk menenangkan. Sungguh memalukan ! Semenjak itu saya tidak pernah lagi duduk  berdampingan dengan anak itu.

Saya selalu senang saat waktu istirahat tiba. Mungkin semua anak juga sama seperti saya. Ini karena saya dan temamn-teman selalu mendapat makan siang gratis dari ibu guru. Makanan yang di sajikan selalu berbeda setiap harinya. Eeeeumh .. sangat lezat . Di tambah dengan suasana makan bersama yang sangat meriah.

Saat perpisahan, saya ikut serta dalam pentas menari. Disana saya menggunakan kebaya kuning dan di make up oleh mama saya sendiri. Seorang Rayi Heristyara menggunakan kebaya ? rasanya sungguh tidak nyaman. Tidak dapat bergerak bebas. Namun, syukurlah saya dapat melalui pertunjukan tersebut dengan lancar.

  • Sekolah Dasar

Saya dapat menyelesaikan taman kanak-kanak dengan prestasi yang cukup memuaskan orang tua. Lalu saya melanjutkan sekolah di SDN 1 Rantau. Selama 6 tahun lamanya saya menuntut ilmu disana. Banyak suka duka yang saya jalani. Saat di sekolah dulu, saya sering meminta uang pada kakak saya. Kebetulan saya satu sekolah dengannya. Terkadang, uang tersebut saya gunakan untuk membeli mainan cabutan. Sebelum istirahat tiba uang saya sudah ludes di tangan bibi warung. Bahkan saya pernah pulang jalan kaki dari sekolah ke rumah karena kehabisan ongkos. Padahal jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh. Sepulangnya ke rumah, saya dimarahi papa dan mama, dan alhasil saya di beri uang saku tambahan untuk naik taksi. Semenjak itu saya pulang naik taksi. Awalnya saya merasa canggung , berbaur dengan orang-orang dalam taksi. Namun lama kelamaan saya dapat beradaptasi. lagi pula saya juga pernah melakukan hal yang sama saat TK, hanya berbeda alat transportasinya saja. Dulu, saya sering di diperingatkan salah seorang guru karena seragam saya yang terlalu kentat. Setiap kali kai bertemu, beliau selalu menegur saya menggunakan majas ironi. Jujur saja itu membuat saya tersinggung. Waktu itu saya berpikir “ah.. tanggung ! ini sudah ujian praktek,

masa harus beli seragam baru lagi ? lebih baik saya membeli untuk seragam SMP nanti ..” dan hingga saya tamat SD saya tetap bertahan dengan seragam nan kentat tersebut .

Ujian SD adalah pengalaman pertama saya mengikuti ujuian. Tentu saya tegang. Mulai dari jauh-jauh hari saya belajar untuk mencicil pelajaran. Karena dengan belajar dapat mengurangi ketegangan saya. Saya dan teman-teman SD 1 ujian di sekolah lain. Jadi kami ujian di SD tetangga. Satu hal yang paling saya ingat saat ujian, yaitu saya pernah di curigai guru memiliki kunci jawban karena saya dapat menyelesaikan semua soal dengan cepat . Saat semua murid selesai mengisi dan menanda tangani absen, saya pun telah selesai mengerjakannya.  Guru tersebut terus memandangi saya seakan sedang memantau saya. I don’t care, karena saya memang menjawabnya dengan kemampuan saya sendiri. Akhirnya saya menghabiskan waktu yang tersisa dengan memperiksa kembali jawaban saya.

Sebelum penguman kelulusan, kami mengadakan acara perpisahan . di acara tersebut banyak acara yang di selenggarakan mulai dari menyanyi, baca puisi, sampai pentas drama. Kami dari kelas VIb menyumbangkan sebuah pentas drama dimana saya juga terlibat disana. Drama tersebut berjalan lancar, walau saya rasa kacau karena akting kami yang masih kaku. Lalu saya dan teman-teman lainnya mengakhiri dengan sesi foto-foto bersama.

Satu bulan kemudian, tiba saat pengumuman kelulusan. Dan Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang lagi-lagi memuaskan. Saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMP 1 Rantau.

Masa Remaja

  • Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Di saat anak-anak yang lain pergi mendaftar di temani dengan orang tua mereka, tidak dengan saya. Saya pergi mendaftar hanya bersama dengan sahabat SD saya. Kami memang senasib. Menurut mereka supaya saya mandiri. Tidak hanya saya, kakak-kakak saya dulu pun juga begitu. Mulai dari mencari informasi, pendaftaran, pengisian formulir, tes, daftar ulang, sampai mengurus administrasi saya atasi sendiri. Bahkan saya harus bolak balik sekolah-rumah dengan sepeda untuk meminta tandatangan pada formulir. Usaha saya tidak sia-sia. Saya dapat diterima di SMPN 1 Rantau.  Pada saat saya tes wawancara seorang guru menegur saya karena beliau mengira saya mengecat rambut . Padahal saya tidak pernah melakukan itu, karena jika saya melakukan hal itu saya bisa di marahi habis-habisan sama papa.  Sudah banyak yang bilang serupa. Mungkin ini merupakan gen keturunan. Karena kakak saya juga memiliki rambut yang begini.

Selang 2 hari setelah pengumuman siswa baru, saya dan teman-teman yang lain mendapat bimbingan untuk MOS. Di sana kebiasaan sok akrab saya kambuh. Sayang saya tidak mendapat respon yang baik dari teman-teman yang lain. karena mereka yang masih malu-malu. Dan akhirnya saya bergaul dengan teman-teman yang satu SD.

Kami menjalani MOS selama tiga hari. Saat hari pertama MOS, saya berusaha dandan serapi mungkin. Dengan semua yang serba baru, mulai dari sepatu, kaos kaki, baju seragam putih-biru, tas, buku, dan kerudung. Dalam MOS, kami mendapat berbagai bimbingan , baik dari segi perkenalan dengan lingkungan sekolah serta sistem pembelajaran pada sekolah baru tersebut. Kami juga . harus mengikuti game yang telah di buat oleh kakak kelas. Seperti bermain bola dengan music dangdut. Tidak ketinggalan kegiatan meminta tandatangan kakak kelas serta dewan guru. Kegiatan seperti itulah yang kami jalani selama 3 hari MOS. Setelah itu baru kami syah sebagai siawa yang akan menimba ilmu. Pagi-pagi sekali dengan di antar papa saya datang untuk mendapat bangku yang cocok. Namun, usaha saya sia-sia. Ternyata sudah banyak siswa laing yang datang . Dan alhasil saya mendapat bangku di tengah. Awalnya, kami semua saling merasa canggung. Namun lama kelamaan kami dapat beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Dari sesi perkenalan diri kami dapat saling mengenal satu sama lain. Dan keakraban kami mulai terjalin. Bahkan kami terkenal menjadi kelas yang kompak . kelas kami juga terkenal dengan ributnya. Mungkin karena ada saya si biang omong. Maybe ..

Saya dulu memiliki 2 teman dekat. Bahkan kami membuat grub yang kami beri nama Sadira. Itu merupakan singakatan dari nama kami bertiga. Namun sayang semuanya hanya dapat bertahan sampai kelas 8. Ini karena kami terlalu sibuk dengan teman masing-masing. Namun biar  kami sudah tidak tergabung dalam sadira, kami tetap berteman baik.

Banyak kenangan manis saat SMP yang selalu terkenang. Kelas kami yang terkenal dengan keributan dan kejahilannya selalu membuat saya kangen. Salah satu korban kejahilan saya dan teman-teman adalah mendandani salah seorang teman laki-laki kami dengan bedak, lipstick, mascara, farvum serta tidak lupa kerudung. Kejadian itu kami abadikan kedalam video. Dan itu tidak hanya sekali, bahkan sampai 2 kali. Kami juga sering iseng membuat video narsis di mana kami menglipsingkan lagu dengan peralatan seadanya sebagai alat music seperti ember, sapu, dan tongkat, serta berdadan dan berjoget ala penyanyi aslinya. Tidak lama setelah kejadian itu, pihak sekolah mengadakan razia handphone mendadak. Seketika kami yang saat itu sedang baris di depan kelas panik. Secepat kilat kami berusaha untuk menyimpan handphone kedalam plastik. Lalu teman saya berinisiatif untuk menyimpannya di celah fentilasi kelas. Karena badannya yang tergolong kecil dan ringan akhirnya dia yang memanjat jendela untuk meletakkan plastik tersebut. Namun sayang, aksi kami kepergok guru yang terkenal galak. Hal hasil handphone kami satu plastik yang berisi 9 buah melayang di sita. Kami pun mendapat surat panggilan orang tua untuk mengambil handphone tersebut. Dengan berat hati saya memberikan surat tersebut kepada orang tua saya. Awalnya mereka biasa. Bahkan papa mengengelek saya yang kesepian tanpa handphone. Butuh waktu 2 minggu untuk menyelesaikan masalah ini. Akhirnya mama yang memutuskan untuk datang ke sekolah . papa tidak mau, karena ini memalukan ! di sekolah, mama saya mendapat teguran dari guru karena kata mereka saya terlalu banyak bicara. Serta mereka bilang bahwa murid 7b sangat kreatif. Ibu guru menjelaskan mengapa alasannya. Ternyata itu karena video-video yang kami buat, mulai dari mendandani Teman laki-laki dan joget narsis kami. Dan itu semua pula yang membuat handphone kami di tahan hingga 2 minggu lamanya. Sesampainya di rumah, saya mendapat ceramah habis-habisan dari papa. Dan saya harus terima konsekuensi itu. Kejadian itu adalah kedua kalinya yang membuat saya masuk BP. Kejadian yang pertama saya di panggil ke BP karena kebiasaan saya mengobrol dalam kelas. Untung saat itu orangtua saya tidak di panggil. Jika tidak, apa yang akan mereka perbuat pada saya ?? matilah saya !!

Jangan dikira dari sikap saya yang cerewet dan tidak feminine ini hanya ahli dalam bicara. Begini-begini saya juga masih memiliki sisi keibuan. Saya mengikuti ektrakulikuler jurusan tataboga. Ini karena saya senang dan tertarik di bidang makanan. Entah mengapa saya tertarik dengan makanan dan memasak. Saya juga senang melakukan eksperimen dengan masakan saya. Banyak teman saya yang menyarankan untuk melanjutkan sekolah yang berbau makanan. Tapi hati saya tidak tertarik. Karena menurut saya masak-mesak juga bisa di pelajari sendiri secara otodidak . Bukan menjadi tujuan utama saya dalam bidang pendidikan. Ini hanya menjadi sekedar hobi.

Tanpa terasa saya harus menjalani UAS lagi. Ini sungguh membuat saya strees. Hingga beberapa bulan sebelumnya saya harus di larikan ke rumah sakit karena terkena demam berdarah. Ini terjadi karena kesibukan les/bimbel sana-sini yang saya jalani. Untung saya dapat pulih dengan cepat dan dapat beraktivitas seperti biasa. Saat ujian, saya sangat tegang. Membayangkan soal yang susah dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi kelak. Tapi, syukur Allhamdulillah saya lulus pada UAS. Sebelumnya saya juga lulus pada try out yang di adakan oleh pihak sekolah. Saat pengumuman kelulusan, betapa bahagianya saya mendengar bahwa saya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tidak sia-sia cemilan yang selama ini papa beli dan menemani saya saat belajar.

Sama seperti senior-senior yang terdahulu, kami pun mengadakan acara perpisahan. Saat acara pelepasan, saya terharu. Apalagi saat pengalungan mendali. Namun entah mengapa saya tidak bisa mengeluarkan air mata seperti teman-teman yang lain. Setela itu di lanjutkan dengan acara perpisahan yang begitu meriah. Di hibur oleh teman-teman berserta band, dance, dan persebahan drama dari adik-adik kelas. Membuat saya dan yang lain merasa berat untuk meninggalkan SMP. Namun, jenjang yang lebih tinggi lagi tengah menanti kami…

  • Masa  SMA

Lagi-lagi, saya mendaftar SMA sendiri tanpa di temani orangtua. Namun saya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Saya dapat lulus di SMAN 1 Rantau dengan perjuangan yang cukup berat dan masuk dalam peringkat 50 besar. Sehingga saya berkesempatan untuk masuk  kelas yang di golongkan kelas unggulan. Saya sepakat untuk mengikutu kelas tersebut, walaupun saya tahu konsekuensinya. Salah satunya adalah pulang sekolah jam 16.00 wita. Jujur, awalnya yang membuat saya tertarik mengikuti kelas ini karena saya merasa tertantang, dapat mengisi waktu luang saya yang sering terbuan sia-sia. Di hari pertama, saya terkejut karena banyak orang asing yang tidak saya kenal. Memulai semuanya kembali dari awal seperti awal masuk SMP. Hanya ada sebagian kecil yang saya kenal karena karena merupakan teman TK, SD, dan SMP saya. Sekolah baru, teman dan suasana baru.

Saya menempati kelas X2. Di kelas ini saya merasa lebih berwarna. Mungkin karena di SMA ini saya dan teman-teman yang lain telah dewasa. Ditambah lagi dengan suasana belajar yang berbeda. Sama seperti saat awal masuk SMP, di SMA pun ada sesi MOSnya. Namun berbeda dengan MOS di SMP, di sini jauh lebuh extreme. Jika di SMP paling kejam hanya di suruh memetik sampah di halaman, saat SMA juga. Namun di tambah dengan dandanan yang nyentrik. Saya dan yang lain di wajibkan untuk memakai topi dan keranjang purun yang telah di hias seindah mungkin dengan tali rapia , menggunakan kalung sendok-garpu, kalung sayur (bawang merah, bawang putih, tering, dan kacang panjang), kalung dot, gelang tangan dan kaki dari tutup botol, serta pita dan ikat pinggang yang terbuat dari tali rapia. Selama 3 hari saya harus menggunakan semua itu. Kegiatan MOS tidak hanya pada pagi hari, namun juga pada sore hari di tengah matahari yang begitu mmenyengat yang begitu menguras energy saya.

Seusai MOS akhirnya dapat belajar layaknya tugas pelajar. Di sinilah saya menemukan sahabat-sahabat yang saya rasa begitu cocok dengan saya. Mereka bisa di ajak sharing masalah pelajaran, pribadi, dan masalah mimpi dan khayalan saya. Mereka adalah teman terbaik saya..

Saat SMA inilah saya menjadi gila karena Korea. I’m very interested in all of Korean, especially the music. Sebenarnya demam ini sudah berlangsung sejak SMP. Namun semakin menjadi jadi saat SMA. Saya merupakan seorang fanatic korea, mulai dari drama, film, music, boy/girl band, artis, dan kebudayaannya. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, saya tetap cinta tanah air. Namun ini hanya sekedar kesenangan semata. Saya merupakan seorang E.L.F. E.L.F merupakan singkatan dari EverLasting Friends, merupakan nama fansclub dari Super Junior, boyband yang sangat teramat saya sukai. Secara tidak langsung, kegemaran saya ini dapat menjadi penyemangat dan motivasi dalam belajar saya. Banyak teman saya yang bilang bahwa saya menjadi korban trend. Tapi menurut saya tidak. Saya bersyukur memiliki sahabat yang juga dapat saya ajak untuk sharing masalah ini.

Kegiatan saya saat SMA sangat padat. Pagi pergi sekolah, sepulangnya di lanjutkan dengan pelajaran tambahan, lalu saya pergi les. Terkadang saya dan teman-teman yang lain lembur di sekolahan untuk mengerja tugas bersama. Belum lagi bimbel geografi seminggu sekali serta jika ada acara kerja kelompok. Awalnya ini sengguh melelahkan. Namun, ini semua adalah keputusan saya sendiri untuk mecari kesibukan namun yang positif. Karena saya sering merasa bosan saat di rumah. Saya hanya memiliki waktu istirahat saat malam hari, itu pun kalau tidak ada PR. Bahkan saya sering kurang istirahat. Ini karena kebiasaan saya begadang hingga pagi, membuat saya terkadang hanya tidur 1 jam bakhan kurang. Saya sering menghabiskan waktu begadang untuk menyalurkan hobi saya, yaitu menonton film drama. Saya sering lupa waktu jika sudah menonton film drama. Ini merupakan kebiasaan buruk yang sangat saya gemari. Karena ini semua pula membuat wajah saya kusam saat pergi ke sekolah. Namun saya dapat mengatasinya dengan menggunakan masker muka sebelum pergi ke sekolah. Setidaknya ini dapat mengurangi kekusaman wajah saya.

Semenjak SMP saya sangat senang saat ada sesi debat atau pun diskusi. Begitu pula saat SMA, saat pelajaran apa pun. Terutama yang tema social dan umum. Karena dengan begitu saya dapat mengalihkan kebiasaan bicara saya yang belebihan menjadi sesuatu yang lebih bermakna, bermanfaat serta berisi. Tidak hanya di pandang sebagai “tong kosong nyaring bunyinya”.

Lagi-lagi, kelas yang saya masuki terkenal dengan ributnya. Banyak yang bilang kalau kelas X2 itu muridnya sangat rebut, banyak bicara. Hahh~ ya begini lah. Terkadang di saat ada jam pelajaran yang kosong, teman-teman sering menyetel film. Dan kami pun mengadakan nonton bareng di kelas. Saat kelas X semester pertama Alhamdulillah saya mendapat pringkat 5. Dan saya jadikan sebagai acuan untuk kedepannya. Saya terkenal dengan sebutan anak kutu buku karena saya senang membaca. Saya juga senang pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca ataupun meminjam buku. Ini lebih efektif karena tidak memakan biaya jika di bandingkan dengan membeli buku. Sehingga menjadi solusi terbaik untuk seorang pelajar seperti saya.

Waktu liburan akhir semester saya dan keluarga pergi berlibur ke Bali. Saya sangat bahagia karena dapat berkumpul dengan keluarga lengkap. Sudah lama sekali rasanya kami tidak berkumpul seperti ini, setelah kepergian keedua kakak saya untuk kuliah di luar kota. Sayang, libur sekolah hanya sebentar. Sehingga kami hanya menghabiskan waktu satu minggu di Bali.

Saya begitu semangat memasuki tahun ajaran baru. Ini karena saya tidak sabar untuk segera memasuki kelas IPA. Dengan nilai saya yang bisa dikatakan bagus, saya dapat masuk di jurusan IPA. Sudah lama saya mengidam idamkan jurusan ini. Bukan semata mata karena kesan yang timbulkan dari jurusan ini serta embel-embel nama, namun karena memang keinginan saya, saya merasa saya lebih cocok di jurusan ini. Selain itu, masuk jurusan IPA sudah menjadi tradisi keluarga. Karena kakak-kakak saya juga mengambil jurusan IPA. Dan kini usaha sayaharus lebih keras. Karena saya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya. Sekarang saya tertarik dengan pelajaran kimia, biologi, matematika dan bahasa inggris. Entah mengapa saya sangat bersemangat dengan pelajaran tsb. Selain itu, saya juga tengah mempelajari bahasa korea. Membuat jadwal kegiatan saya semakin padat, dan jam istirahat semakin berkurang. Tapi, saya dengan senang hati menjalani semua ini. Karena menimbulkan kepuasan tersendiri bagi saya. Mungkin dulu saya masih bisa santai, menikmati indahnya masa-masa remaja. Tapi sekarang tidak bisa. Saya harus belajar lebih giat lagi demi keinginan saya untuk kuliah di Korea. Jika saya hanya mengharapkan dana dari papa kemungkinannya sangat kecil. Itulah sebabnya saya sangat berniat untuk meraih beasiswa. Hitung-hitung mengurangi beban orang tua.

Hari ini, saya berdandan sebaik  mungkin demi menghadiri wisuda mas Bagus. Tidak saya sangka secepat ini. Semua sedang sibuk bersiap-siap. Kami sekeluarga mengenakan pakaian yang kompak, yaitu batik coklat. Papa terlihat gagah, mas Adif terlihat tampan, mama terlihat cantik dengan batik dengan model yang elegan, serta saya dengan batik modern. Saat di tempat acara wisuda, terlihat jelas raut bangga terpancar dari wajah mama dan papa. Melihat mas Bagus wisuda sungguh membuat saya terharu. Seusai acara kami melakukan foto bersama. Dan itu merupakan peristiwa penting yang akan selalu terkenang.

Syukur alhamdulillah hingga saya kelas XII saya mendapat nilai yang bagus, selalu masuk 3 besar. Itu membuat saya berkesempata mendapat beasiswa. Kakak saya, mas bagus menyarankan untuk saya mengajukan usulan. Karena menurutnya nilai saya telah memenuhi standar persyaratannya. Tanpa berpikir panjang lagi, saya mengikutinya. Saya harus mengisi persyaratannya serta blangko. Banyak pilihan negara yang di ajukan, seperti Amerika, Inggris, Jepang, Malaysia, serta Korea. Tentu saja saya memilih Korea ,dengan tujuan Gwangju Polytechnic college.Tersisa waktu satu minggu sebelum tes. Saya pergunakan untuk belajar. Saya begitu bersemangat dengan beasiswa ini, karena dengan beasiswa ini saya dapat pergi kuliah di Korea seperti keinginan saya. Seminggu pun berlalu. Tiba saatnya saya untu menjalankan tes. Dengan terpaksa saya harus izin sekolah sehari demi tes. Serasa sedang ujian, saya juga degdegan. Raut tegang terpampang jelas di wajah saya. Dengan mengucap basmallah saya memulai semuanya. Bila dipikir-pikir berat rasanya. Saya harus bersaing dengan ribuan orang dari seluruh Indonesia. Namun saya harus tetap optimis. Hasil tesnya akan di umumkan beberapa hari setelah ujian. Saya hanya bisa berdoa dan berharap dapat lulus pada tes ini.

Selain di sibukan dengan kegiatan sekolah dan les di sana-sini yang kian intensif menjelang Ujian, saya juga masih menyempatkan untuk membangun bisnis. Semenjak kelas 8 saya membangun bisnis kecil-kecilan, yaitu berjualan aksesoris. Selain itu saya juga menerima jasa mengetik, hitung hitung untuk menambah pengalaman. Penghasilan dari itu semua lumayan besar bagi seorang pelajar. Dengan uang ini saya dapat membeli yang saya inginkan tanpa harus meminta pada mama dan papa. Itu merupakan kepuasan tersendiri. Oleh karena kesibukan saya ini, nafsu makan saya menurun , membuat saya menjadi kurus secara drastis. Berat badan saya turun 5 kg. Semua orang memuji fostur tubuh saya yang terlihat lebih langsing. Hal iin membuat saya bersemangat untuk diet. Hingga membuat saya bersemangat untuk diet, yaitu dengan melakukan pola makan yang sehat dan teratur dengan porsi yang sedikit, bahkan mama bilang saya makan seperti kucing karena itu. Serta tidak lupa berolahraga. Dan alhasil, dalam waktu yang cukup singkat saya telah bisa mendapatkan tubuh yang ideal. Saya sangat bersyukur dengan keajaiban ini. Ini sungguh keajaiban ..

Tanpa terasa ujian semakin dekat. Saya dan siswa yang lainnya menjalani ujian praktik. Alhamdulillah saya tidak mengalami kesulitan saat ujian praktik. Semua dapat berjalan dengan lancar. Begitu pula saat try out, saya dapat lulus. Hingga akhirnya tiba saat ujian akhirnasional. Waktu belajar tiga tahun akan di tentukan hanya dalam lembaran kertas. Jika gagal maka sia-sialah kerja keras belajar selama ini. Tapi saya tidak mau seperti itu. Saya harus berpikiran pisitif dan optimis. Ujian akan di laksanakan selama tiga hari, dengan dua mata pelajaran per harinya.

Tiga hari pun berlalu… UAN telah berakhir. Namun hati saya masih saja belum tenang bila belum mengetahui hasilnya. Ya apa boleh buat ?? seusai ujian saya belum bisa bernafas lega, karena saya harus melakukan persiapan untuk mengurus keperluan kuliah. Mulai dari mendaftar, tes, dsb. Saya memang sangat berharap saya dapat lulus dalam seleksi beasiswa kuliah di Korea. Namun saya tidak dapat hanya bergantung pada sesuatu yang tidak pasti. Hal ini membuat saya berburu perguruan tinggi. Saya tidak hanya mendaftar di satu perguruan tinggi namun lebih, untuk mengurangi kemungkinan terburuk. Dan hasilnya saya diterima di salah satu perguruan tinggi yang besar di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia. Tapi mengapa belum juga ada pengumuman untuk beasiswa ? saya hampir putus asa. Jangan-jangan saya tidak diterima ? sebulan lebih lamanya saya menunggu. Dan akhirnya saya mendengar kabar dari televisi  bahwa pengumuman hasil tes beasiswa ke Korea telah keluar. Dan setelah saya periksa di internet ternyata benar saja… betapa terkejutnya saya. Nama saya, Rayi Heristyara terpampang di daftar pada baris ketiga, “Alhamdulillah”. Tapi ini semua masih menunggu hasil Ujian. yang pertama kali saya lakukan setelah mendapat kabar tersebut adalah berkemas. Sudah tak sabar lagi saya rasannya ingin kuliah. Walau berat rasanya meninggalkan keluarga dan teman-teman. Tapi ini sudah menjadi jalan yang saya pilih. Saya sangat ingin membuat bangga orang tua. Dan karena itulah saya akan bekerja keras.

Di hari pengumuman hasil Ujian, saya sangat tegang hingga tak nafsu makan mulai tadi malam. Bahkan saya sangat susah untuk memejamkan mata. Pengambilan hasilnya harus beserta orang tua atau wali. Kali ini saya ditemani papa. Lama sekali rasanya menunggu pidato kepala sekolah ini selesai. Membuat saya semakin cemas dan gelisah tak menentu. Hingga akhirnya tiba pada acara inti yang sangat ditunggu-tunggu. Sebuah amplop yang terlem rapat di berikan kepala sekolah pada papa. Saat membukanya papa terlihat murung dengan wajah suram dan seram.  Saya coba untuk bertanya. Namun papa tetap diam. Hingga akhirnya tersenyum luas bak samudra dan memeluk saya mengucapkan “selamat”. Seketika saya raih surat pengumuman tsb dan mendapati hasil LULUS. Bahkan yang membuat saya dan papa tercengang adalah peringkat yang saya dapatkan, yaitu peringkat kedua. Ini sungguh mengekutkan. Sungguh di luar dugaan. Seketika saya memeluk papa. Dan ini berarti impian saya akan segera terwujud, yaitu kuliah di Gwangju Polytechnic college di Gwangju, Koerea Selatan. Di tengah kerumunan murid lain yang juga tengah berbahagia saya berteriak “Gwangju Polytechnic college, aku dataaaaang …”. Lalu papa pulang untuk memberi tahukan kabar gembira ini pada semua keluarga. Sedangkan saya memutuskan untuk pergi merayakan kelulusan ini bersama teman-teman yang lain. Kami merayakannya dengan berpawai ria mengendarai sepeda berkeliling kota dengan tertip. Lalu melanjutkannya dengan acara semprot-menyemprot seragam sebagai tanda kebebasan dan awal langkah baru yang akan kami tempuh. Tidak lupa kami berfoto-foto sebagai kenangan. Kebahagian sungguh terpancar dari kami. Di tambah dengan kemeriahan pesta perpisahan yang di lakukan selang tiga hari kemudian. Tak tega rasanya meninggalkan bangku SMA yang penuh dengan kenang..

Masa Dewasa

  • Kuliah

Sebulan lamanya saya di sibukan dengan berkas-berkas untuk mengurus kepergian saya ke Korea, mulai dari paspor hingga visa. Untung saya di bantu oleh kakak saya. Tanggal keberangkatan saya telah di tentukan dan kian mendekat. Saya menghabiskan waktu untuk menikmati rumah, lingkungan, serta negara tercinta ini sebelum saya pergi dan meninggalkan segalanya. Berat rasanya. Tapi inilah yang saya inginkan, kuliah di Korea dengan beasiswa serta hidup mandiri. Di saat teman-teman yang lain tengah asyik menikmati masa orientasi mahasiswa baru, saya terus saja sibuk berkemas. Saya takut jika ada yang tertinggal. Mungkin karena saya terlalu gugup.. untuk mengantarkan keberangkatan saya, mama dan papa melakukan acara selamatan, sekaligus untuk mendoakan demi kelancaran saya kelak.

Minggu depan, awal tahun 2013 saya akan masuk kuliah. Hari ini saya akan berangkat. Saya memutuskan untuk pergi lebih awal karena saya pikir saya harus belajar meradaptasi dengan lingkungan yang baru nanti. Papa, mama, mas adif, mas bagus, dan sahabat-sahabat saya mengantar saya ke bandara. Sebelum berangkat, saya sungkem pada papa dan mama memohon doa restu beliau, berpamitan kepada kedua kakak serta sahabat-sahabat saya. Berat rasanya meninggalkan mereka dan segalanya yang ada di sini. Melihat lambaian tangan mereka yang mengiringi kepergian saya ke dalam pesawat. Melihat mereka dari balik jendela pesawat membuat saya terharu. Dan saya berjanji dalam hati bahwa kelak saya akan kembali dalam keadaan sukses, saya akan membuat mereka bangga, tidak mengecewakan mereka,  dan akan berusaha semampu mungkin. . .

Setelah 7 jam lamanya berada di pesawat, akhirnya saya tiba di Bandar Udara Internasional Incheon Korea Selatan. Pegal rasanya. Setelah turun, saya langsung di jemput oleh teman kakak saya. Ia juga membantu saya untuk mencarikan saya tempat tinggal yang berlokasikan tidak jauh dari kampus. Akhirnya saya berhasil dapat rumah yang cocok dengan harga sewa yang terjangkau. Saya sangat berhutang budi padanya.. Semalaman saya habiskan waktu untuk berbenah, mendekorasi rumah.

Hari ini adalah hari pertama saya kuliah. Saya pergi dengan bus, dan menantinya di halte yang sangat bersih dan terawat. Membuat saya betah menunggu. Setibanya disana, saya dibuat bingung dengan kemegahan kampus Gwangju Polytechnic . Bangga rasanya saya dapat kuliah disini. Hari pertama ini saya gunakan untuk lebih mengenal lingkungan kampus. Berkeliling dari satu tempat ketempat yang lain. Saya mengambil program study arsitektur di polytechnic college. Saya memilih ini karena saya ingin membangun rumah dengan rancangan saya sendiri. Selain itu juga karena saya tertarik dengan dunia yang berhubungan dengan rancang merancang, menggambar, melukis, dan menghitung. Ternyata tidak hanya saya saja orang Indonesia yang kuliah disini. Ada beberapa seniors yang juga orang Indonesia. Jadi saya bisa belajar darinya mengenai kehidupan di Korea. Dan ini sangat membantu.

Saya mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan ini. Untungnya, selama disini saya bertemu dengan orang-orang yang ramah. Saya tidak mengalami kesulitan dalam masalah komunikasi, karena saya menguasai tiga bahasa selain Indonesia, yaitu bahasa korea, inggris, dan mandarin. Karena bahasa-bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan di Korea. Selama disini, ada satu hal yang belum dapat saya lakukan, yaitu bekerja. Hampa rasanya jika hanya menerima uang dari orang lain. Lagi pula, uang dari orang tua kurang mencukupi biaya hidup di kota yang metropolitan seperti Gwangju. Saya ingin bekerja paruh waktu. Hitung-hitung untuk mengisi waktu luang dan membantu saya untuk mencari pengalaman. Salah seorang teman membantu saya. Ia merekomendasikan sebuah pekerjaan yang membuat saya tertarik, yaitu menjadi pelayan di sebuah restoran dekat kampus. Setelah saya pikir-pikir, ini lumayan juga. Akhirnya saya memutuskan untuk menerima tawaran itu. Kini saya harus lebih pandai dalam membagi waktu, antara kuliah, bekerja, belajar dan beristirahat. Itulah tantangan hidup saat kuliah yang mandiri jauh dari rumah, yang selama ini hanya saya dengar dari kisah kakak-kakak saya dan kini saya bisa merasakannya sendiri.

  • 2014 merupakan awal dari segalanya

Setahun sudah saya menimba ilmu di Korea. Kini saya merasa jauh lebih baik daripada saat saya pertama kali datang ke Korea. Saya sudah lebih menguasai keadaan lingkungan rumah dan kampus. Walaupun awalnya agak canggung karena perbedaan budaya dan kebiasaan. Namun kini saya dapat beradaptasi dengan cepat.

Rutinitas saya kini sungguh padat : kuliah, kerja sampingan, dan belajar. Walaupun padat dan cenderung monoton, tapi saya sangat senang menjalaninya. Bekerja merupakan hiburan bagi saya. Disana saya bertemu dengan banyak orang, membantu mereka dengan memberikan layanan terbaik yang dapat saya lakukan. Suatu hari, seusai kuliah, seperti biasa saya menuju restoran. Tapi setibanya disana, saya dikejutkan oleh rombongan mobil mewah yang berjejer didepan resto. Ini tidak seperti biasanya. Padahal ini merupakan jam istirahat bagi karyawan, seharusnya resto belum sepenuh itu. Saya pun masuk keresto untuk mengambil seragam lalu bekerja. Pak manager tiba-tiba memanggil saya dan menyuruh saya untuk bergegas karena kami kedatangan tamu istimewa, sedangkan sebagian karyawan belum kembali dari jam istirahatnya. Saya menuruti perintahnya untuk bergegas dan melayani tamu tersebut. Berapa terkejutnya saya saat melihat tamu istimewa tersebut tenyata mereka adalah all member of Super Junior. Semua perasaan saya bercampur aduk bak gado gado, mulai dari terkejut, senang, bahagia, gugup dan tegang. Mereka semua adalah member dari boyband favorid saya. Saya melayani mereka sebaik mungkin, selain karena karena takut pada atasan saya juga ingin terlihat sebagai pelayan yang perfect. Ahaaha~

Saat itu lah saya pertama kali bertemu dengan seorang Pria bernama Choi Siwon, ia juga merupakan salah satu member dari Super Junior. Entah mengapa saat itu ia terus menatap saya. Membuat saya bingung dan kian gugup. Apakah ada yang salah dengan penampilan saya hari ini ? pandangan itu sungguh mengganggu di benak saya. Entah apa yang terjadi ..

Hari ini saya ada ujian dan kuliah siang. Untunglah, jadi saya dapat belajar sebelumnya. Selama ini saya selalu begadang untuk menyelesaikan berbagai laporan dan tugas-tugas lainnya. Sungguh melelahkan. Tapi untungya saya sudah terbiasa begadang sejak SMA, sehingga tidak terlalu menyiksa saya. Setibanya dikampus, saya duduk rileks dibawah taman kampus yang teduh dan sejuk. Ini adalah tempat favorid saya untuk belajar selain perpustakaan. Karena suasana disini dapat membuat saya berkonsentrasi. Seusai ujian, salah seorang teman baik saya mengajak saya untuk pergi menonton konser bersama. Awalnya saya tidak tertarik karena masih banyak pekerjaan dan tugas yang belum saya selesaikan. Namun, setelah ia mengatakan “konser Super Junior”, saya langsung berminat. Lalu kami bergegas pergi untuk membeli tiket konser sebelum kehabisan. Setelah mengalami perjuangan yang berat, mengantri, berdesak-desakan, dan dorong-dorongan dengan pengantri yang lain, akhirnya kami berhasil mendapatkannya.ini semua menguras uang saku saya selama 1bulan, itu berarti saya harus ngirit seirit mungkin dalam bulan ini. Yaa hitung-hitung diet.

Setiap malam tiba, terkadang saya sangat merindukan keluarga saya. Ingin sekali rasanya pulang kekapung halaman untuk menengok papa dan mama. Tapi apa daya, ongkos tiket pesawat Indonesia-Korea lumayan mahal. Membuat saya harus berpikir berulang kali sebelum saya mengambil keputusan. Lagi pula waktu saya begitu padat. Satu-satunya cara mengobatinya adalah dengan menelpon mama, papa, ataupun mas. Itu juga sudah cukup mengobati kerinduan saya kepada mereka.

Hari ini, tepat berlangsungnya konser Super Junior yang bertajuk Super Show 4. Konser ini sudah digelar 3 kali di berbagai negara Asia dan beberapa negara di Eropa. Pertunjukan ini telah mendapat banyak penghargaan karena banyaknya pengunjung dengan jumlah lebih dari 30.000 orang per sekali pertunjukan yang menyaksikan secara langsung, dan belum lagi yang menyaksikan secara secara online. Ini sungguh menarik, membuat saya penasaran. Hari ini, saya akan menjadi salah satu dari 30.000 orang yang beruntung karena dapat berkesempat menyaksikannya. Karena hal ini, saya memutuskan untuk izin dari pekerjaan. Untungnya hal ini tidak bentrok dengan jadwal kuliah saya. 4 jam sebelum konser, saya dan teman saya menuju lokasi pertunjukan, ini agar kami dapat memilih lokasi yang pas agar dapat melihat perform mereka dengan jelas tanpa hambatan dan gangguan. Dan syukurlah perkiraan kami tepat. Kami mendapat posisi yang tepat, yaitu di bagian depan yang tidak terlalu jauh dengan panggung. Lama kami semua disini menunggu, hingga akhirnya Super Show 4 pun resmi dimulai. Mereka menyanyikan satu persatu lagu andalan mereka. Saya pribadi sangat menikmati pertunjukan ini yang sugguh menghibur. Super Show super menghibur, itulah yang ada dibenak saya. Suasana semakin riuh gembira. Namun suasana menjadi jauh lebih riuh saat dua member Super Junior, Siwon dan Donghae mendekat kearah podium kami. Handicam yan saya gunakan untuk mengabadikan jalannya konserpun saya tujukan pada mereka. Entah karena melihat saya merekam mereka mereka, donghae mengambil handicam tersebut dan merekam dirinya sendiri. Itu memang kebiasaan yang sering ia lakukan saat konser. Itu sungguh membuat saya shock. Namun, yang membuat saya jadi lebih shock lagi adalah saat siwon memberikan saya setangkai bunga mawar merah lalu mencium tangan saya. Oh my god, this’s like a dream. Ia melemparkan senyum indahnya kepada saya. Membuat penonton yang lain iri. Saya merasa menjadi gadis yang sangat berutung. Tanpa terasa konser telah berakhir. Kini saya memutuskan untuk pulang. Setibanya, bunga pemberian Siwon saya letakkan di vas agar tidak layu. Saya tidak pernah menganggap kalau ini adalah sungguhan, karena tidak mungkin rasanya seorang artis besar seperti Choi Siwon tertarik dengan saya. Saya berusaha untuk menganggapnya seperti angin lalu. Namun, saya tidak dapat mengelak lagi saat keesokan harinya Siwon menemui saya di restoran tempat saya bekerja. Awalnya saya kira dia hanya ingin makan seperti biasa layaknya pengunjung yang lain, tapi lalu ia berkata “saya ingin mengenalmu lebih jauh ..” kata-kata itu sungguh membuat saya tercengang. Dan dari sanalah hubungan saya dengan Siwon dimulai. Kami jadi lebih sering bertemu. Walau terkadang terhambat oleh kesibukan Siwon sebagai penyanyi, actor dan model terkenal di Korea. Setahun lamanya saya dan Siwon melakukan pendekatan. Dan akhirnya saya dan Siwon memutuskan untuk memiliki hubungan yang lebih jauh dan membuat komitmen untuk menjalin kasih. Kini saya tidak lagi kesepian di negeri orang, karena kini saya telah memiliki seseorang sebagai sandaran baik suka ataupun duka.

Selama disini saya juga menyempatkan diri untuk mengebangkan hoby memasak saya. Saya dapat belajar dari koki restoran. Ia bersedia untuk membagi ilmunya mengenai berbagai masakan. Ini sungguh membuat saya senang. Dengan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, saya dapat bekerja sekaligus belajar dan mengembangkan hoby. Kelak, saya ingin membuka sebuah restoran dimana saya pulalah yang menjadi kokinya.

Tidak terasa sudah 4 tahun lamanya saya kuliah. Saat ini saya telah sampai pada tahap menyusun diskripsi. Saya harus berusaha dengan baik agar tidak mengecewakan. Ini menyebabkan saya harus berhenti dari pekerjaan, untuk fokus menyusun diskripsi. Saya akan berusaha agar dapat wisuda pada tahun ini juga. Itu adalah target saya. Untungnya ada Siwon yang selalu berada disisi saya untuk memberikan semangat dan motivasi. Hubungan kami telah memasuki tahun kedua. Kini hubungan kami kian dekat. Kami telah merasakan kenyamanan antara satu sama lain. Bahkan Siwon mengutarakan niatnya untuk menikahi saya. Namun saya belum siap, karena saya ingin lulus dan mendapatkan pekerja terlebih dahulu barulah akan menikah.

Waktu kerja keras saya selama ini ini tidak sia-sia, saya dapat lulus kuliah dengan nilai yang sungguh memuaskan dengan peringkat kedua. Dengan begini tahun 2016 ini saya akan wisuda. Setidaknya sekarang saya dapat bernafas lega.

Pada saat wisuda, saya kedatangan tamu istimewa, yaitu keluarga saya. Mereka menghadiri wisuda saya. Awalnya saya kira mereka tidak dapat hadir, karena mereka bilang jaraknya yang terlalu jauh. Tapi ternyata mereka membuatkan saya surprise yang sungguh membuat saya shock, bahagia dan terharu. Ini menjadi hal yang sangat saya tunggu-tuggu selama 4 tahun. Karena baru inilah saya daprt bertemu dengan mereka semua. Dan dalam kesempatan berkumpul ini saya gunakan untuk memperkenalkan Siwon kepada mereka. Siwon sungguh antusias dengan ini, karena sudah lama ia ingin bertemu dengan keluarga saya. Awalnya mereka terkejut karena mereka tidak menyangka saya telah memiliki kekasih. Mereka menerima Siwon seperti anak dan adik ipar mereka, namun itu sebelum mereka mengetahui perbedaan besar pada kami ..

  • Menjadi seorang Arsitektur wanita

Setelah saya menyelesaikan kuliah, saya memutuskan untuk mencari kerja. Saya mengirimkan CV saya pada sebuah Biro Arsitektur ternama di Korea. Semoga saya dapat di terima, karena ini merupakan langkah saya menuju sukses. Tidak lama berselang, saya mendapat panggilan wawancara. “Ini belum selesai, ini masih awal dari masa depan” kata itulah yang terus memacu saya dan membuat saya bersemangat. Pada hari wawancara, saya berusaha berpakaian serapi mungkin, berusaha menyesuaikan pakaian dengan keadaan agar terlihat pantas. Saya datang 2 jam lebih awal. Ini untuk menghindari berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Tes wawancara dapat saya lalui, namun yang membuat saya tercengang adalah akan diadakannya tes sketsa pada hari ini juga. Untung sebelumnya saya telah mengantisipasinya dengan membawa peralatan yang mungkin akan diperlukan.

Tes pun telah berakhir. Saya dapat melaluinya dengan lancar kini saya harus menunggu jawaban dari perusahan. Waktu yang ada saya manfaatkan untuk beristirahat. Melepas segala penat dengan releksasi. Setelah semingg berlalu, saya menerima surat penerimaan kerja. Hal ini sontak membuat saya senang. Dan mulai besok saya sudah dapat bekerja. Bekerja ? rasanya baru saja kemarin saya lulus SMA.

  •  Pelengkap Kebahagian

Setelah melakukan pertemuan dengan keluarga saya, ada sesuatu yang baru saja terpikirkan oleh saya yaitu perbedaan. Mengapa tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya ? saya dan Siwon memang berbeda agama. Saya beragama islam sedangkan Siwon beragama Kristen. Ini menimbulkan pertentangan dari keluarga besar saya. Hal ini membuat hubungan saya dan Siwon sempat merenggang. Untuk sementara, kami memutuskan untuk intropeksi diri. Entah mengapa saya sampai bisa melupakan hal dasar seperti ini ?

Sebulan lamanya kami tidak bertemu, hingga akhirnya Siwon mengajak saya untuk menemui keluarga besarnya. Awalnya saya menolak, karena semuanya akan sama saja. Tapi karena desakan Siwon akhirnya saya menyetujuinya. Saat bertemu dengan orang tua dan adik perempuannya, saya merasa diperlakukan bak putri, mereka seakan tak peduli dengan dinding  pembatas antara saya dan Siwon. Mereka menyerahkan segala keputusan ditangan Siwon, mereka yakin apapun jalan yang dipilih siwon itu merupakan jalan yang terbaik. Kemudian Siwon pun memutuskan untuk menjadi mualaf, ia ingin berpindah agama ke islam. Awalnya saya merasa egois, tapi setelah ia mengutarakan alasan keputusannya ini karena ia memang benar-benar ingin masuk islam dan bukan hanya karena saya, saya menjadi lega. Ini berarti hubngan kami menjadi semakin lancar. Seminggu kemudian Siwon mengucapkan dua kalimat syahadat di salah satu mesjid di Korea. Saya pun hadir untuk memberikan dukungan. Kini Siwon resmi mejadi seorang mualaf. Ia berusaha untuk menjadi malaf seutuhnya. Ia berusaha mendalami agama islam, seperti sholat, mengaji dan lainnya. Ini sungguh membuat saya tersentuh. Bahkan kini Siwonlah yang selalu mengingatkan saya untuk sholat tepat waktu. Ia memang ideal untuk menjadi imam saya kelak. Siwon berencana ingin datang ke Indonesia untuk melamar saya. Dan kami memutuskan untuk pergi menemui keluarga Siwon terlebih dahulu sebelum pergi ke Indonesia.

Setelah melakukan pertemuan kedua keluarga, akhirnya di sepakati jika kami akan melaksanakan tunangan terlebih dahulu. Ini karena Siwon masih terikat kontrak dengan manajemennya, SM Entertaiment hingga akhir 2018. Selain itu juga karena saya belum siap menikah diusia 23 tahun. Saya ingin membangun karir saya sebagai arsitek terlebih dahulu.

Selama tiga tahun kedepan, saya dan siwon membangun rumah untuk kami tempati kelak setelah menikah. Dan rumah tersebut saya sendiri yang akan mendesignnya.

  • Menempuh Hidup Baru

Tiga tahun sudah saya bekerja di Korea. Ini berarti lima tahun sudah usia hubungan saya dengan Siwon. Kini kami tengah mempersiapkan rencana pernikahan. Menerut rencana, resepsi pernikahan akan dilakukan 2 kali yaitu ditempat asal saya Rantau, Kalimantan Selatan, Indonesia dan di Seoul, Korea Selatan. Sedangkan ijab Kabul aka di laksanakan di Rantau, Indonesia.

25 Desember 2019, kini tibalah hari yang paling saya tunggu-tunggu. Hari yang sangat sacral. Saya akan segera menyusul kedua kakak saya yang telah terlebih dahulu menikah. Saya dan Siwon beserta keluarga bertolak ke Indonesia untuk melakukan ijab kabul dan resepsi pertama di Rantau. Kami menggunakan 2 adat, yaitu  Korea dan adat Jawa, ini karena kedua orang tua saya orang Jawa.  Banyak tamu yang hadir, mulai dari teman-teman hingga keluarga saya dan Siwon. Keesokan harinya kami melaksanakan resepsi di Seoul. Selama 2 hari ini sungguh melelahkan. Namun juga membahagiakan. Kini saya dan Siwon telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Saya harus terbiasakan dengan panggilan nyonya Choi. Setelah menikah, Siwon memutuskan untuk mengurangi kegiatannya didunia hiburan dan lebih memilih fokus pada bisnis yang diturunkan oleh ayahnya. Sedangkan saya memutuskan untuk membuka restoran sekaligus menjadi koki. Kami memutuskan untuk menetap di Korea, ini karena tuntutan pekerjaan saya dan Siwon yang mengharuskan kami menetap di Korea, dan kini kami menempati rumah baru yang merupakan design saya sendiri. Berusaha untuk membangun keluarga kecil yang syakinah mawadah dan warohmah.

BAB III

Kehidupan Rayi Heristyara Setelah menikah

Setelah memasuki usia pernikahan dua tahun, tepatnya pada tanggal 8 Desember 2021 kami di karuniai seorang anak laki-laki yang kami beri nama Choi Difta . Dan keluarga kami menjadi lebih sempurna setelah setahun kemudian kami di karuniai Tuhan kembali seorang anak berjenis kelamin perempuan bernama Choi Ara Heristyara. Tak pernah membayangkan sebelumnya kalau saya akan sebahagia ini dengan pria yang saya cintai dan ditemani oleh dua orang malaikat kecil nan lucu, tampan dan cantik. Awalnya saya cukup kerepotan karena harus mengurus dua anak kecil sekaligus bekerja. Di usia saya yang 28 tahun ini harus mengurus dua baby yang masing masing berusia  1 ½ tahun dan 6 bulan. Walaupun begitu saya tidak ingin  menggunakan jasa baby sister, karena saya ingin saya sendiri yang mengurus mereka sehingga saya dapat mengikuti setiap tumbuh kembang mereka. Bahkan saya tidak menggunakan jasa pembantu, saya mengurus semua urusan rumah sendiri. Oleh sebab itu, dengan berat hati dan penuh pertimbangan saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan saya sebagai arsitek, dan lebih memilih fokus untuk mengurus restoran dan mengurus dua buah hati kami. Rutin setahun sekali saya, Siwon beserta Anak-anak pergi mengunjungi mama dan papa di Indonesia. Ini agar Difta dan Ara dekat dengan kakek dan nenek serta paman-pamannya dan sepupu-sepupunya.

Selama setahun terakhir bisnis restoran saya, The Choi Family Restaurant mengalami kemajuan pesat. Kini jumlah pengunjung naik secara pesat. Kini kesibukan saya bertambah. Walaupun begitu saya tidak lalai dalam mengurus keluarga. Anak dan suami tetap menjadi prioritas saya. Saya akan terus berusaha untuk dapat menjadi ibu rumah tangga yang baik, bahkan yang terbaik hingga tua kelak.

Bab 4

Masa Tua Rayi Heristyara

25 Desember 2044, hari ini saya merayakan anniversary saya dan Siwon yang ke-25. Ini juga  merupakan hari yang special karena dihari ini tepat pada hari kami akan menghadiri wisuda Difta. Ia tela berhasil lulus di Kanazawa Medical University di Ishikawa, Jepang dengan program study kedokteran . Ini merupakan suatu kebanggaan , karena ia dapat lulus dengan nilai tertinggi . ia memutuskan untuk bekerja di Indonesia sebagai dokter, karena ia bilang ingin merasakan hidup di Indonesia. Saya dan Siwon pun menyetujuinya. Ia pergi ke Jakarta dan tinggal bersama sepupunya. Setahun berselang, kini giliran Ara yang wisuda. Ia lulus dengan peringkat ke-2 di Inha University di Incheon, Korea Selatan dengan program study Art and Design. Lalu Ara pergi ke Jepang untuk magang dan membangun karirnya menjadi seorang designer disana. Kini saya dan Siwon hanya tinggal berdua, sepi rasanya. Tapi tanpa anak-anak kami serasa seperti saat berbulan madu kembali.

Dan akhirnya, setelah Difta mapan dan sukses sebagai dokter ia memutuskan untuk menikah. Ia mendapatkan calon istri dari Indonesia bernama Adinda septriara seorang perawat yang bekerja dalam satu rumah sakit dengan Difta. Selang dua tahun setelah itu, barulah Ara menyusul . Ia menikah dengan seorang pria tampan bernama Lian Agus Wicaksono, seorang mentri kedutaan besar untuk Indonesia di Jepang, seorang eksukutif muda. Setelah mereka menikah, sekarang saya dan Siwon telah menjadi kakek dan nenek. Difta dan Adinda dikaruniai 3 orang anak, 2 laki-laki dan satu perempuan, bernama choi dimas, choi fadlan dan choi icha septriani. Sedangkan Ara memiliki putri semata wayang bernama hyuna Wicaksono. Kini saya telah memiliki empat orang cucu. Ternyata saya sekarag sudah tua.

Kini kehidupan saya benar-benar sempurna. Di hari tua saya dapat berada disamping orang-orang yang saya sayangi. Saya juga bahagia karena pernikahan kami awet hingga kami dimakan usia. Kini saya hanya dapat berserah diri menikmati sisa waktu menjelang matahari tenggelam bersama Siwon  dengan penuh kebahagian di masa tua ini.

SEKIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s