Mini Autobiografi : Proposal Untuk Tuhan

pray

MINI AUTOBIOGRAFI

PROPOSAL UNTUK TUHAN

 

Oleh : Rayi Heristyara

Nama saya Rayi Heristyara, seorang gadis kelahiran 22 Desember 18 tahun yang lalu. Seorang manusia biasa yang nampak biasa namun sebenarnya luar biasa. Tidak percaya ? siapa yang peduli ? haha. Saya anak ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan Herry Purnomo dan Dian Sulistyaningsih. Terlahir menjadi anak bungsu bukan keinginan saya. Namun terlahir menjadi anak bungsu merupakan sebuah anugerah luar biasa yang Allah ciptakan. Memiliki dua orang bak malaikat yang selalu menjaga dan menjadi panutan saya adalah sesuatu yang membahagiakan. Yaitu kakak pertama saya yang bernama Bagus Herdimas, seorang mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat jurusan TIP. Dan kakak kedua saya bernama Pradifta Hernanda yang juga salah satu mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas Lambung Mangkurat namun jurusan Teknik Kimia. Sedangkan saya sendiri saat ini tengah duduk di bangku SMA Negri 1 Rantau kelas XII jurusan IPA3.

Hidup bersama 3 orang pria dengan didikan yang ketat dan keras telah berhasil mendidik saya menjadi wanita keras yang hidup dalam prinsip. Perfectionist dan keras kepala, bukanlah sifat yang baik namun juga tidak terlalu buruk bukan ? Selama 18 tahun lamanya saya tinggal di kota yang berada ditengah provinsi Kalimantan Selatan, yaitu kota Rantau. Dengan ayah seorang PNS dan ibu seorang ibu rumah tangga, kami hidup bahagia selalu. Amin.

Hari-hari dimasa SMA sungguh tak mungkin dapat saya lupakan. Begitu banyak kenangan yang terangkai bersama, mulai dari yang membanggakan, membahagiakan, cerita duka, bahkan kenakalan-kenakalan anak Ipa 3 yang selalu membuat saya tersenyum sendiri setiap kali mengingatnya. Dan kini tidak terasa saya dan teman-teman yang lain berada di gerbang akhir SMA. Rasanya baru saja kemarin saya merasakan masa-masa MOS dan bertemu teman-teman baru. Segala kenangan yang tercipta selalu membuat saya tersenyum bodoh. Dan kini UAN sudah siap menghadang kami dan perguruan tinggi pun siap menampung mahasiswa baru.

Hari-hari saya pun kini semakin berat. Buku menjadi teman setiap disetiap waktu. Les kini seperti waktu luang saya untuk refreshing dengan dunia luar. Semua ini bukan tanpa alasan. Ini demi mencapai sebuah impian. Sebuah ambisi. Bukan over ambisi ! selalu terbesit dibenak saya untuk melanjutkan kuliah di kedokteran. Ya, impian saya adalah menjadi seorang dokter. Lebih tepatnya dokter kandungan. Entah kapan tepatnya namun membayangkannya saja membuat saya bergairah untuk mewujudkan impian ini. Menolong ibu-ibu hamil, membantu memantau titipan mungil dari Tuhan didalam rahim seorang wanita, membantunya untuk dapat menghirup udara dan melihat ciptaan Tuhan dengan selamat, mendengar tangis pertamanya, dan bahkan merasakan kebahagian sepasang umat manusia atas kehadiran seorang malaikat kecil di bumi merupakan sebuah kepuasan tersendiri yang sungguh ingin saya rasakan.Tidak ada salahnya untuk bermimpi dan merancanakan masa depan. Walau umur ditangan Tuhan, tetap saja mempersiapkan segalanya sejak dini itu lebih baik.

Berusaha dan beriktiar, itulah yang dapat saya lakukan  saat ini. Dan Alhamdulillah, Allah telah memberikan jawaban terindah atas doa dan usaha saya selama ini. Saya, dapat lulus Ujian dengan nilai yang sangat memuaskan, nilai tertinggi ke-2 disekolah dan berhasil masuk dalam 3 besar peraih nilai UAN tertinggi tingkat provinsi. Inilah bentuk bakti saya kepada orang tua. Membuat mereka bangga dan tersenyum bahagia.

Dan segala syukur tak henti saya panjatkan, saya berhasil lulus UMPTN di Universitas Brawijaya, Malang. Bisa bayangkan betapa bahagianya saya ? Dulu tak pernah terbersit untuk bersekolah diluar pulau. Apa lagi sangat sulit untuk mengantongi izin orang tua. Tapi Alhamdulillah, berkat nilai yang saya capai, segala angan saya dapat terwujud. Di sana, saya mengambil jurusan Pendidikan Dokter seperti yang saya inginkan dan berhasil saya jalani selama 3,5 tahun. Relative cepat dari pada umumnya dengan IPK mendekati sempurna, sungguh memuaskan. Tidak hanya kuliah, di Malang saya juga berusaha untuk lebih mandiri. Selama  kurang lebih 4 tahun disana, saya juga bekerja paruh waktu disebuah restoran menjadi seorang pelayan. Bukan sekedar bekerja demi uang, disana saya juga berusaha mencari pengalaman dan belajar memasak. Hari-hari berlalu begitu cepat tanpa beban.

Hingga tiba pada saat yang paling ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa, yaitu wisuda yang membahagiakan ditemani dengan keluarga besar. Suatu momen yang sangat jarang dapat saya lewati karena kesibukan saya. Namun jalan saya masih panjang. Masih ada Pendidikan Profesi Dokter Umum (Koass), Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sumpah dokter, Internship, PTT, dan PPDS untuk saya bisa menjadi dokter kandungan yang ‘real’.

Namun, sebelum mengambil semua itu, saya memutuskan untuk menikah. Seorang pria soleh berwibawa telah mampu menarik minat saya. Kami bertemu ketika kami sama-sama berkuliah di Brawijaya. Seorang kakak tingkat saya yang lebih tua 2 tahun dari saya yang mampu mengayomi saya. Seorang calon dokter spesialis bedah. Kami melaksanakan pernikahan secara sederhana. Hanya mengundang keluarga dan kerabat. Ini memang keinginan dari saya, karena saya tidak suka dengan keramaian . Lalu saya dan suami beserta keluarga besar kami pergi haji bersama. Ini merupakan pengalaman yang mengesankan. Kami naik haji berjamaah haha. Dan setelahnya saya dan suami melanjutkan berbulan madu ke Paris, Korea dan Thailand. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Setelahnya, saya kembali melanjutkan kegiatan dibidang akademik saya. Hingga saya berhasil meraih gelar sebagai dokter kandungan.

Dan kini, saya bekerja di salah satu rumah sakit terbesar di Malang. Tanpa melepas status saya sebagai seorang istri dan ibu. Oh ya, kini ini saya memiliki 3 orang malaikat kecil yang sangaaaat lucu. Dengan anak pertama berjenis kelamin laki-laki bernama Difta, dan sepasang anak kembar perempuan bernama Hyuna dan Yoona. Saya menyisipkan nama marga suami sebagai nama akhiran anak-anak saya. Mereka tumbuh dengan sehat dan tanpa saya sadari mereka telah tumbuh menjadi dewasa.

Difta menjadi seorang arsitek, Hyuna memilih menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, sedangkan Yoona lebih memilih untuk menjadi koki di restoran yang ia gawangi sendiri. Sungguh membahagiakan. Saya merasa telah sukses menjadi seorang istri dan seorang ibu. Melihat mereka bertiga sukses selalu membuat saya tak henti-hentinya memanjatkan puji dan syukur kepada Allah.

Kini saya dan suami menikmati masa tua bersama cucu-cucu kami yang juga lucu. Mensyukuri atas takdir yang telah Allah gariskan. Mengenang betapa bodohnya saya dulu yang dipenuhi dengan beribu mimpi dan berjuta ambisi. Menikmati masa tua dengan penuh kebahagiaan.

Semoga dengan mini autobiografi ini dapat menginspirasi semua yang membacanya. Dan semoga mini autografi ini menjadi sebuah motivasi untuk saya sendiri dan dapat terwujud.  AMIN.

SEKIAN

Sebelumnya, aku emang kelewat narsis untuk ngepost mini autobiografi ini. So ? mungkin akan banyak typo dan info ngaco yang tak berdasar. karena apa ? karena keterbatasan aku sebagai seorang pelajar yang masih duduk dibangku SMA dengan pengalaman yang cetek. Jadi HARUS dimaklumi. Dan dengan adanya mini autobiografi ini, entah kenapa ditengah-tengah ngetik imanku goyah dan pengen berubah haluan. What the… Dan yang terakhir, untuk masalah penikahan itu, aku 100% ngarang bebas sebebas bebasnya. Karena aku belum ada bayangan untuk nikah.

Semoga mini autobiografi iin bisa menjadi refrensi dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s