Ficlet – Black and White “Will this end ?”

silhouette of a sad lone woman on irish cliff edge

 

Putih telah mengurai layar kapalnya. Pergi mengikuti hembus angin, seirama dengan deru ombak.

Tanpa lambaian tangan, tanpa kata perpisahan.

Putih telah memutuskan untuk menjadikan laut sebagai sekat alam antara dirinya dan hitam. Mungkin memang ini maunya putih. Menambah jarak yang ada semakin besar dan tak berujung. Karena putih tak peduli betapa sakit yang hitam rasakan. Putih terlalu egois untuk memikirkan itu. Mungkin waktunya lebih berharga ketimbang perasaan seorang wanita. Ego yang tinggi.

Namun disisi lain, mungkin putih marah kepada hitam. Sayangnya, hitam tak mengetahui dimana letak kesalahannya. Karena putih yang tak pernah bicara. Hitam berdiam diri ? Salah! Hitam selalu berusaha mencari titik terang dan solusi untuk masalah yang menurutnya tidak jelas ini. Rela meredam ego yang ternyata berujung hampa.

The story among us, like a passage without main idea. Ini konyol. Bagaimana bisa sebuah wacana berdiri tanpa ide pokok ? Seperti halnya api tanpa arang. Itulah kita.

Putih tak pernah mengerti hitam. Begitu pula sebaliknya, hitam tak pernah mengerti putih. Mereka takan pernah bisa bersatu. Sepertinya aku harus meralat pemikiranku sebelumnya. Hitam seperti batu dan putih seperti angin. Batu dan angin. Jika aku diberi kesempatan, aku ingin bertanya kepada-Mu. Apakah batu dan angin bisa bersatu ?

Black and white only memories now.

Kini hanya ada Hitam dan abu-abu, tanpa putih…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s